Lomba Menulis Artikel, Poster, dan Video ILM "Sensor Mandiri"

Dalam rangkaian acara “Anugerah LSF 2017”, Lembaga Sensor Film RI menggelar lomba bertema “Sensor Mandiri” yang dapat diikuti oleh seluruh warga Indonesia dari berbagai usia dan latar belakang. Lomba-lomba tersebut adalah:
·         Lomba Menulis Artikel “Sensor Mandiri”
·         Lomba Membuat Poster “Sensor Mandiri”
·         Lomba Video Iklan Layanan Masyarakat (ILM) “Sensor Mandiri”


Dari tema “Sensor Mandiri”, peserta dipersilahkan untuk memilih topik-topik yang berkaitan dengan tema “Sensor Mandiri”, seperti:

  • Sensor Mandiri sineas dalam melahirkan sebuah karya film.
  • Sensor mandiri orang tua dalam membimbing keluarganya untuk menonton film sesuai usia.
  • Sensor mandiri guru dalam membimbing murid-muridnya untuk menonton film sesuai usia.
  • Sensor mandiri anak-anak, remaja, atau dewasa dalam mengajak menumbuhkan kesadaran menonton film sesuai dengan katagori usianya.
  • Atau topik lain yang berkaitan dengan sensor mandiri.




KETENTUAN UMUM LOMBA MENULIS ARTIKEL
  • Peserta adalah masyarakat umum yang merupakan Warga Negara Indonesia.
  • Peserta adalah individu, yang bukan merupakan karyawan Sekretariat/ Tenaga Sensor/ Anggota LSF.
  • Artikel dibuat sesuai tema, yang merupakan karya terbaru dan belum pernah dilombakan atau dipublikasikan di media apapun.
  • Panjang artikel 5000 sampai dengan 6000 karakter.
  • Penilaian artikel meliputi ide, gagasan, gaya bahasa, kreativitas, dan kejelasan pesan yang disampaikan.
  • Peserta bertanggungjawab atas orisinalitas artikel yang dilombakan, serta dibuktikan dengan surat pernyataan orisinalitas karya dan ditandatangani di atas materai.
  • Artikel dapat dikirim melalui email: lomba@lsf.go.id dan pos atau jasa pengiriman lainnya, disertai potocopy identitas. Bagi yang mengirimkan melalui pos atau jasa pengiriman lainnya, naskah harap dicetak dalam kertas A4, font Times New Roman ukuran12, dan 1,5 spasi (disertai soft file). Alamat Pengiriman: Sekretariat Panitia Lomba “Sensor Mandiri”, Gedung Film, Lantai 6, Jl. M.T. Haryono Kav. 47-48, Jakarta Selatan, 12770.
  • Panitia menerima pengiriman naskah artikel, sejak 7 Agustus 2017 sampai dengan 25 September  2017 (cap pos).
  • Dewan Juri akan memilih tiga pemenang untuk mendapatkan penghargaan, yang terdiri dari: Juara 1, Juara 2, dan Juara 3.
                                    Juara 1 akan mendapatkan piagam danuangtunaiRp. 10.000.000,- *
                                    Juara 2 akan mendapatkan piagam danuangtunaiRp. 7.500.000,-*
                                    Juara 3 akan mendapatkan piagam danuangtunaiRp. 5.000.000,-*
                                    * Pajak ditanggung oleh pemenang
    • Artikel terpilih akan dimuat di Majalah Sensor Film dan website LSF.
    • Artikel-artikel yang tidak terpilih menjadi juara, tetapi dianggap layak untuk dipublikasikan, akan dimuat di Majalah Sensor Film, dan penulisnya akan  mendapatkan honorarium sesuai dengan ketentuan yang berlaku.



KETENTUAN UMUM LOMBA POSTER

  • Peserta adalah masyarakat umum Warga Negara Indonesia.
  • Peserta adalah individu atau kelompok, jumlahnya tidak dibatasi dan bukan merupakan karyawan/ Tenaga Sensor/ Anggota LSF.
  • Poster dibuat sesuai tema yang merupakan karya terbaru dan belum pernah  dilombakan atau dipublikasikan.
  • Penilaian poster meliputi kesesuaian gambar dan tema, kreativitas, dan ketajaman pesan yang disampaikan.
  • Poster dibuat sesuai tema yang merupakan karya terbaru dan belum pernah dilombakan atau dipublikasikan.
  • Ukuran poster A3 disertai softcopy dalam format jpeg, dengan resolusi minimal 300 dpi.
  • Gambar, foto, dan ilustrasi pada poster harus karya sendiri. Jika menggunakan karya orang lain, harus menyertakan izin tertulis dari pencipta.
  • Peserta bertanggungjawab atas orisinalitas poster yang dilombakan, serta dibuktikan dengan surat pernyataan orisinalitas karya dan ditandatangani di atas materai.
  • Pengiriman Poster dan softcopy (disertai potocopy identitas), melalui pos atau jasa pengiriman lainnya, yang dialamatkan ke: Sekretariat Panitia Lomba “Sensor Mandiri”, Gedung Film, Lantai 6, Jl. M.T. Haryono Kav. 47-48, Jakarta Selatan, 12770.
  • Panitia menerima pengiriman poster, sejak 7 Agustus 2017 sampai dengan 25 September  2017 (cap pos).
  • Hak cipta poster tetap milik peserta
  • Poster terbaik akan ditayangkan di media cetak dan elektronik.
  • Dewan Juri akan memilih tiga pemenang untuk mendapatkan penghargaan, yang terdiri dari: Juara 1, Juara 2, dan Juara 3.

                                    Juara 1 akan mendapatkan piagam danuangtunaiRp. 10.000.000,- *
                                    Juara 2 akan mendapatkan piagam danuangtunaiRp. 7.500.000,-*
                                    Juara 3 akan mendapatkan piagam danuangtunaiRp. 5.000.000,-*
                                    * Pajak ditanggung oleh pemenang





KETENTUAN UMUM LOMBA VIDEO IKLAN LAYANAN MASYARAKAT (ILM)

  1. Peserta masyarakat umum Warga Negara Indonesia.
  2. Peserta adalah individu atau kelompok yang jumlahnya tidak dibatasi dan bukan merupakan karyawan Sekretariat/ Tenaga Sensor/ Anggota LSF.
  3. Karya Video  ILM dibuat sesuai topik, yang merupakan karya terbaru dan belum pernah dilombakan atau dipublikasikan.
  4. Penilaian  ILM meliputi orisinalitas dan keunikan ide dan gagasan, mutu teknik dan artistik, dan tawaran pesan yang kuat
  5. Durasi Video ILM 1 menit (60 detik).
  6. Alat rekam produksi PSA dapat menggunakan kamera jenis apapun.
  7. Konten PSA tidak mengandung unsur sara dan pornografi, serta memperhatikan kriteria penyensoran sebagaimana yang dipaparkan dalam Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 2014 Tentang Lembaga Sensor Film.
  8. Peserta bertanggungjawab atas orisinalitas ILM yang dilombakan
  9. Peserta mengirimkan materi ILM dalam DVD atau flashdisk, dengan format .MP4 dengan resolusi minimal HD 1280 X 720 pixel
  10. Pengiriman materi ILM melalui pos atau jasa pengiriman lainnya, yang dialamatkan ke Sekretariat Panitia Lomba “Sensor Mandiri”, Gedung Film, Lantai 6, Jl. M.T. Haryono Kav. 47-48, Jakarta Selatan, 12770.
  11. Panitia menerima pengiriman materi PSA, sejak 7 agustus 2017 sampai dengan 25 September  2017 (cap pos).
  12. Hak cipta  Video ILM tetap milik peserta.
  13. Video ILM terbaik akan ditayangkan di media elektroni

Dewan Juri akan memilih tiga pemenang untuk mendapatkan penghargaan, yang terdiri dari: Juara 1, Juara 2, dan Juara 3.

                                    Juara 1 akan mendapatkan piagam dan uang tunaiRp. 10.000.000,- *
                                    Juara 2 akan mendapatkan piagam dan uang tunaiRp. 7.500.000,-*
                                    Juara 3 akan mendapatkan piagam dan uang tunaiRp. 5.000.000,-*
                                    * Pajak ditanggung oleh pemenang

Pengumuman dan Penyerahan Hadiah untuk seluruh kategori lomba, akan dilaksanakan pada acara puncak “Anugerah LSF 2017” yang akan  berlangsung pada 28 Oktober 2017. Adapun tempat acara penyerahan “Anugerah LSF 2017”, akan diinformasikan secepatnya.*** 



Lomba Menyanyi Lagu “Muslimah” di Bandung Islamic Book Fair 2012
Bandung Islamic Book Fair 2012 (BIBF ’12) mengusung tema “Iqra ABCD Buku Jadi Berilmu”, sebagai wujud kepedulian dan penghargaan IKAPI Jawa Barat terhadap perkembangan buku-buku islami. Berangkat dari tema itulah, panitia BIBF ’12 akan menggelar berbagai kegiatan yang bernuansa islami. Salah satunya adalah Lomba Menyanyi Lagu “Muslimah” (Cipt: Adjie Esa Putra, Vocal: Fitri Widjayanti), yang bisa diikuti oleh berbagai usia.

Bagi yang berminat mengikuti Lomba Menyanyi Lagu “Muslimah” di BIBF ’12, berikut ini adalah penjelasannya:

  • Lagu “Muslimah” bisa didapatkan DISINI
atau klik link-link di bawah ini:
  • Peserta Lomba Menyanyi Lagu “Muslimah” adalah pria/ wanita, berbagai usia, tidak dibatasi wilayahnya.
  • Minus One disediakan oleh panitia atau diperbolehkan membawa alat musik sendiri.
  • Kostum bebas, tetapi sopan.
  • Pendaftaran dibuka mulai dikeluarkannya surat ini sampai dengan 7 Mei 2012.
  • Pengaturan jadwal penampilan akan diatur oleh panitia, dan peserta akan mendapat informasi jadwal sehari setelah mendaftarkan diri.
  • Panitia akan memilih tiga juara berdasarkan “Pilihan Pengunjung BIBF ’12 dan Juri”.
  • Para juara akan mendapatkan tropi, uang tunai, ditambah merchandise menarik.
  • Peserta Lomba Menyanyi Lagu “Muslimah” tidak dipungut biaya apapun.
  • Pendaftaran Peserta bisa langsung ke Sekretariat BIBF, Jl. Ibu Inggit Garnasih No. 30, Bandung, Tlp (022) 5224572, HP: 081809992699, 085793252526, 081220637188.
  • Pendaftaran juga bisa melalui email ke pameran@ikapijabar.com, senisunda@yahoo.com atau inbox Facebook Pesta Buku Islam (pameranbukubandung@yahoo.com).
  • Informasi interaktif bisa mengakses website: www.ikapijabar.com dan www.galuh-purba.com.
  • Jadwal Lomba Menyanyi Lagu “Muslimah” dibagi dalam beberapa sesi. Adapun pembagian jadwalnya adalah sebagai berikut:
Sesi I: kamis, 10 Mei 2012, jam 15.00 s.d. 18.00 WIB
Sesi II: kamis, 10 Mei 2012, jam 18.30 s.d. 21.00 WIB
Sesi III: Senin, 14 Mei 2012, jam 15.00 s.d. 18.00 WIB
Sesi IV: Sabtu, 14 Mei 2012, jam 18.30 s.d. 21. 00 WIB
Tata Cara Pendaftaran Peserta Lomba Menyanyi Lagu “Muslimah” (Pilih salahsatu diantaranya):

  1. Datang langsung ke Sekretariat Panitia BIBF, Jl. Ibu Inggit Garnasih No. 30, Bandung, serta mengisi Formulir yang disediakan, dengan membawa serta poto poscard.
  2. Melalui email, dengan alamat email pameran@ikapijabar.com atau senisunda@yahoo.com, dengan menuliskan Nama, Tempat Tanggal Lahir, Alamat, Nomor HP, Pekerjaan (Bagi yang sudah bekerja), Sekolah (bagi yang masih sekolah), dan menyertakan file poto, dengan format JPG.
  3. Melalui SMS, dengan menuliskan Nama, Tempat Tanggal Lahir, Alamat, Pekerjaan (Bagi yang sudah bekerja), Sekolah (bagi yang masih sekolah). Untuk pengiriman foto, bisa menyusul pada saat technical meeting.
  4. Melalui BBM, ke nomor PIN: 29491699, dengan menuliskan Nama, Tempat Tanggal Lahir, Alamat, Nomor HP, Pekerjaan (Bagi yang sudah bekerja), Sekolah (bagi yang masih sekolah), dan mengirimkan file poto, format JPG.
Jadwal Pentas Peserta Lomba Menyanyi Lagu Muslimah
Jadwal penampilan para peserta Lomba adalah sebagai berikut: Sesi I Rabu, 9 Mei 2012, Pukul 18.30 s.d. 19.30 WIB Titi Sugiarti Moch. Sando Herawan Nisrina Ropipah Nurul Hidayah Sesi II Kamis, 10 Mei 2012, Pukul 16.15 s.d. 17.15 WIB Reni Nur Soleha Ela Fitri Laela Sari Ema Rahmatika Ana Humatul Wahidah Yasri Fatimatussabiyah Ai Enok Iah Syariah Sesi III Kamis, 10 Mei 2012, Pukul 14.00 s.d. 15.00 WIB Riana Muthia Yunda Egi Giantara Edwin Junetra Lia Oktaviani Sesi IV Jumat, 11 Mei 2012, Pukul 19.00 s,d, 21.00 WIB Vanya Putri Budi Setiawan Putri Imaniar Teza Mutiara Khalid Khan Ulfa Ni’mal Aulia Ika Putri Zheptia Annur Diana Dierry Belia Puji Bayu Numan Syifa Winda Ratnasari Ana Mulyana Siti Nurhayati Sudarsih Dea Amanda Hilman Aliy Sesi V Senin, 14 Mei 2012, Pukul 14.00 s.d. 18.00 WIB Teti Kulsum Rita Riyanti Nita Puspita Melinda Gustiani Ulfah Mursidah Reisa Saputri Desi Rohaeni Evi Zakiyah Sasa Sri Ahar Sesi VI Senin, 14 Mei 2012, Pukul 19.00 s.d. 21.00 WIB Febriana Meravia Santi Agus Hermawan Suci Mustika Rahayu Givani Akbar Nurjaman Wida Julianda Yunita Rosyanti Asti N Devi Kharisma Aulia Nurul Fajr Resma Yuni Siti Aisyah Iis Yuniarti
Para Finalis LOMBA MENYANYI LAGU MUSLIMAH
Setelah melakukan diskusi yang cukup alot,  Dewan Juri Lomba Menyanyi Lagu Muslimah, yang terdiri dari Dhipa Galuh Purba, Lia Refany, dan Taufik Rahman, akhirnya memutuskan 11 orang finalis yang berhak mengikuti babak final Lomba Menyanyi Lagu Muslimah (Cipt. Adjie Esa Poetra, Voc. Fitri Widjayanti). Para Finalis tersebut adalah:
  1. Nurul Hidayah (Kota Bandung)
  2. Edwin Junatra (Provinsi Bengkulu)
  3. Putri Imaniar (Kota Cimahi)
  4. Puji Ayu Lestari (Kota Bandung)
  5. Eko Permana (Kota Bandung)
  6. Givani (Kota Cimahi)
  7. Yunita Roesyanthie (Kota Bandung)
  8. Evi Zakiyyah (Kabupaten Bandung)
  9. Resma Khoerunnisa (Kabupaten Bandung)
  10. Muhammad Akbar Nurjaman (Kota Cimahi)
  11. Dierry Annisa (Kota Bandung)
Demikian, keputusan ini tidak bisa diganggu-gugat. Dan kepada 11 finalis, dipersilahkan untuk mengikuti Babak Final, yang akan berlangsung pada 15 Januari 2012, pukul 19.00 WIB s.d. selesai, bertempat di Panggung Utama "Bandung Islamic Book Fair 2012", Landmark Convention Hall, Jl. Braga No. 129, Bandung, yang juga menjadi acara puncak dari seluruh mata acara di Bandung Islamic Book Fair 2012, yang isyaAllah akan ditutup secara resmi oleh Ibu Netty Heryawan.
Kepada seluruh peserta Lomba Menyanyi Lagu Muslimah, kami juga mengundang untuk sama-sama menghadiri acara babak final Lomba Menyanyi Lagu Muslimah dan penutupan acara Bandung Islamic Book Fair 2012. Pada waktu yang sama, Panitia Bandung Islamic Book Fair 2012 juga akan mengumumkan para pemenang:
  • Lomba Desain Cover "Bandung Islamic Book Fair 2012"
  • Lomba Stan Terbaik "Bandung Islamic Book Fair 2012"
  • Pemilihan Stan Favorit "Bandung Islamic Book Fair 2012"
Dewan Juri yang ditunjuk panitia untuk melakukan penilaian tersebut adalah Dadan Sutisna, Eriyandi Budiman, dan Iman Abda.
Pengalaman Pertama Nonton Longser
Oleh Nizar Fahmi
Longser adalah sebuah pertunjukan, hanya itu yang saya tahu. Longser sebuah pertunjukan tradisional yang lahir dan berkembang di bumi Priangan. Pertunjukan ini ditampilkan dengan konsep tradisional juga menggunakan bahasa sunda. Longser yang saya tonton di stasiun TVRI Jawa Barat merupakan pertunjukan Longser pertama yang saya tonton.
Longser yang dipertunjukkan di stasiun TVRI beberapa waktu lalu itu dikemas seperti seharusnya. Tidak berlebihan apabila saya menilai longer tersebut bagus, sebab ini longser pertama yang saya tonton, dan sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang longser.
Sebelum memulai produksi siaran Longser, beberapa kru dari tim produksi Longser tidak saya lihat sama sekali, kecuali sosok bapak-bapak yang diperkenalkan oleh Dhipa Galuh Purba. Saya pun lupa nama sosok itu siapa, tapi yang jelas, saya tidak melihat keberadaan kru lain di ruang produksi selain sosok itu. Bahkan awalnya saya mengira prosukdi siaran Longser itu dikerjakan oleh satu orang,  tapi ternyata perkiraan saya keliru.
Duduk cukup lama menunggu, saya hampir merasa bosan dengan persiapan pertunjukan Longser. Saya menunggu, dan kemudian beberapa saat sebelum pertunjukan dimulai para crew sudah tampak bersiap-siap. Jika tidak salah jumlah mereka adalah empat orang, lima dengan sosok bapak-bapak itu. Tiga orang cameramen, satu orang make up artis, dan terakhir adalah sosok bapak-bapak yang saya lupakan namanya itu.
Mereka tidak lagi muda, maksud saya mereka berbeda dengan yang saya lihat di stasiun lain seperti Trans TV, Trans 7 dan beberapa stasiun lain yang banyak mempekerjakan anak-anak muda. Di sini sepertinya pihak manajemen lebih memilih “orang-orang jadi”, atau mungkin itu juga bagian dari ideologi stasiun TVRI sendiri, saya tidak tahu.

Mereka berada di usia antara 35-40 tahun. Sebenarnya usia yang masih muda, tetapi pendapat saya berbeda, saya mengatakan mereka tua. Mungkin karena sebelumnya saya melihat orang-orang muda bekerja di Trans TV dan Trans 7.
Kemudian seorang wanita berambut cukup panjang meminta kami duduk di karpet yang sudah disediakan. Karpet berwarna hijau. Karpet yang tidak begitu lebar, bahkan untuk ukuran selametan sekalipun. Karpet itu diduduki oleh cukup banyak orang. Semuanya berdesak-desakan. Mahasiswa KPI, siswa Taman Kanak-Kanak beserta orang tua mereka, dan orang yang tidak sulit saya kenali. Semantara banyak penonton duduk tak beraturan di sana sini. Untuk posisi duduk ini, sepertinya pihak TVRI tidak memperhitungkannya dengan matang.
Saya melihat beberapa penonton duduk seenaknya. Di antara mereka ada yang duduk di kursi di belakang, di stage lain, dan di beberapa tempat lainnya. Saya risih dengan keadaan ini. Saya menilai hal ini tidak cukup baik, karena mencerminkan kurang sigapnya pihak TVRI menerima penonton dalam jumlah cukup banyak.
Berikutnya pertunjukan Longser dipersiapkan. Beberapa talent naik ke panggung. Beberapa laki-laki dan beberapa perempuan. Kira-kira perempuannya hanya tiga, jika saya tidak salah ingat. Talent-talent ini seperti tidak di-make over oleh petugasnya. Di wajah mereka tidak terlihat adanya bedak, atau goresan apapun. Kecuali seorang wanita bertubuh gempal dan seorang lagi yang bertubuh kurus.
 Satu memerankan istri calon Kades, dan satu lagi nenek. Keduanya saya lihat cukup medok di-make over. Tetapi lain-lainnya seperti tidak sama sekali. Kemudian wanita berambut cukup panjang tadi memanggil talent yang belum di-make over agar masuk ke ruang make up. Dugaan saya mereka belum di-make over. Benar, ternyata mereka belum. Selanjutnya satu persatu dari mereka berjalan ke atas panggung, dan wajah mereka sama. Seperti tidak di-make over sama sekali. Saya pikir tukang make up wajah artis di sini tidak ahli dalam pekerjaannya. Terbukti dari wajah para pemain Longser itu sendiri. wajah mereka sama seperti sebelum masuk ke ruang make up.
Para pemain melakukan percobaan, mereka seperti tidak serius. Saya tidak memedulikan hal ini. Bagi saya, mereka boleh tidak serius asalkan pertunjukan bisa berjalan sesuai harapan. Cukup lama mereka melakukan persiapan, mungkin hampir satu jam. Saya menikmati ini. Bagi saya melihat mereka berlatih sudah lebih dari cukup dibanding mendengar instruksi-instruksi dari wanita berambut cukup panjang yang tak saya ketahui namanya.
Kemudian pemain-pemain music mulai melantunkan nyanyian berbahasa Sunda. Mereka sedang check sound rupanya. Beberapa bait lagu mereka lantunkan, terutama lagu pembuka Longser. Mereka terdiri atas seorang perempuan dan empat orang laki-laki.
Pertunjukan dimulai. Seorang lelaki memakai pangsi berwarna hijau lengkap dengan iket sunda berjalan di atas panggung. Rupanya ia pembuka Longser. Saya tidak mengerti hal ini, tetapi terdapat sedikit benang merah antara Longser dan Opera Van Java, yaitu sama-sama dibuka oleh satu orang. Setelah dibuka dan pembawa acara menyebutkan judulnya, Longser dilanjutkan dengan tarian Jaipong. Dua orang anak perempuan menari berlanggak-lenggok di atas panggung. Tinggi masing-masing mereka berbeda, satu cukup tinggi sedangkan satunya bertubuh pendek. Kemudian saya tahu mereka adalah siswa Sekolah Dasar dan Siswa SMP.
Pertunjukan Longser dimulai. Judulnya adalah ”Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”. Judul yang pasaran. Pada awalnya pertunjukan berjalan menyenangkan, tapi lambat laun menjadi membosankan. Pemeran bernama Aep membuat pertunjukan Longser menjadi menyenangkan. Ia dengan santai, menampilkan mimik muka yang konyol, serta gaya bicaranya yang benar-benar lucu. Saya menikmati pertunjukan Longser ini selama Aep masih ada di panggung. Kehebatannya ia bisa menarik perhatian penonton agar tertuju padanya. Mungkin hanya pemeran yang berambut cepak saja yang mampu mengimbangi kemampuan Aep di scene pertama ini, yang lainnya tidak.
Saya rasa setiap pemeran Longser ini memiliki kemampuan yang terlampau jauh. Dan yang saya nilai baik penampilannya hanya Aep, lelaki yang memerankan peran sebagai calon Kades. Perform-nya bagus, ekspresi wajah yang ditampilkannya lebih dari cukup untuk membuat saya dan orang lain tertawa-tawa terpingkal-pingkal. Akan tetapi pemeran lainnya tidak mampu mengimbangi penampilan lelaki bertubuh jangkung itu. Mungkin, mungkin hanya sosok Nenek, istri mang Kardun saja yang hampir mengimbangi kemampuan Aep, selebihnya tidak ada. Hal ini menjadikan scene kedua terasa garing. Tidak ada humor segar yang dibawakan dengan apik. Akibatnya penonton merasa jenuh dan tidak tertarik untuk menonton. Sungguh miris bila sebuah pertunjukan mengandalkan nyawa pertunjukannya pada satu orang.
Alur cerita Longser ini terlalu tiba-tiba. Mengapa demikian? Karena sosok mang Kardun yang tiba-tiba muncul di scene terakhir. Sebelumnya ia hanya diperkenalkan sebagai pembawa acara. Lalu ia muncul kembali di scene terakhir. Hal ini membuat saya dan beberapa penonton kebingungan dengan alur cerita Longser berjudul “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”. Sudah begitu, pertunjukan Longser ini garing sekali. Humornya tidak kentara.
Mungkin tidak ada lagi yang bisa saya komentari dari pertunjukan Longser ini. Penutupan Longser tidak cukup menarik bagi saya. Penutupan dan pembukaan Longser, keduanya dibuat dalam konsep yang sama, dan jadinya membosankan. Tidak ada lagi tinta yang saya akan saya goreskan untuk mengkritisi Longser ini. Saya hanya orang awam yang menonton Longser.
Ketika Nyogok Salah Sasaran; Sebuah Cerita Longser di TVRI Jabar
Oleh Novia Try Widyaningrum
Cerita dalam longser “Katurug Katutuh” mengisahkan  seorang lelaki yang bernama Aep Saepulloh, yang telah mencalonkan diri sebagai kepala desa. Lelaki ini mempunyai seorang istri bernama Amoh, wanita berpostur tubuh pendek ini adalah wanita yang sangat baik dan sabar selalu menemani Aep dalam suka maupun duka.
Aep sang lelaki yang menyalonkan diri sebagai kepala desa dibantu oleh dua orang asistennya. Pada pemilihan putaran pertama, Aep yang sudah menyalonkan diri sebagai kepala desa ternyata kalah karena kurangnya pendukung, Aep yang saat itu sudah berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan tidak terima dengan kekalahannya, akhirnya Aep pun konsultasi dengan dua asisten tim suksesnya itu.
Setelah berbincang-bincang panjang lebar, akhirnya dua asisten menemukan solusi jika Aep ingin terpilih menjadi kepala desa, maka Aep harus mengajukan banding kepada MK (Mahkamah Konstitusi). Tanpa berfikir panjang Aep langsung menerima usulan dua asistennya tersebut. Dengan penuh semangat, Aep yang sedari tadi duduk tiba-tiba langsung menelpon MK.

Di dalam perbincangan lewat telepon itu, MK berkata kepada Aep “Jika ingin naik banding maka Aep harus menyiapkan uang sebesar 3M (Miliyar)”. Aep yang seketika bersemangat tadi tiba-tiba wajahnya menjadi murung dan tidak karuan, seketika itupun Aep langsung menutup teleponnya. Aep duduk kembali dengan wajah yang amat kusut dan putus asa, melihat wajah Aep 2 asisten nya langsung bertanya “Bagaimana jadinya juragan? bisa?” Tanya salah satu asitennya
“Gawat aduh harus ada uang 3M” Aep menjawabnya
“3M? Banyak banget” Jawab nyai Amoh, tiba-tiba langsung duduk didekat Aep
“Bagaimana coba, mana saya sedang tidak memegang uang sepeserpun” kata Aep
“Mmmm” Dua asistennya sedang berfikir
“Ya, sok atuh nih jual saja perhiasan saya…” kata nyai Amoh dengan suara sedih dan pasrah sambil melepaskan gelang kalung dan cincin yang dipakainya.
Aep yang seketika terharu melihat pengorbanan Nyai Amoh tiba-tiba memeluk sambil berkata “Terimakasih sayang…”
Nyai Amoh yang hanya tersenyum sambil memeluk balik Aep sambil berkata “Kalo nanti kepilih beliin aku perhiasan yang banyak,”
Suasana terharu pun mendadak menjadi biasa kembali karena ulah nyai Amoh, akhirnya dua asistennya disuruh Aep untuk menjual perhiasan nyai Amoh. Setelah kepergian dua asistennya Aep bepfikir barang apalagi yang harus dia jual demi uang 3M. tak lama kemudian datanglah dua asisten dengan membawa uang hasil dari perhiasan nyai Amoh
“Tidak cukup juragan uangnya juga…” kata salah satu asistennya
“Aduh, bagaimana ini barang apalagi yang harus saya jual uang saya sudah habis dipakai untuk kampanye kemarin” jawab Aep dengan muka yang sedih
“Ahaaa, saya tau juragan apa yang harus juragan lakukan sekarang…” kata salah satu asistennya
“Apa sok apa?” jawab Aep
“Jadi begini saya mempunyai kenalan seorang pengusaha yang kaya raya siapa tau dia bisa membantu juragan beliau orangnya sangat baik dan dermawan siapa tau beliau bisa meminjamkan juragan uang” kata salah satu asistennya
“Ide baguuus itu, mana ayo kita kontek pengusaha itu” jawab Aep dengan raut muka yang gembira
“Ini juragan, namanya boss Ogo!” kata salah satu asistennya sambil memberikan nomer hp bos Ogo
Setelah berbincang-bincang panjang lebar bersama boss Ogo dan menentukan waktu untuk bertemu akhirmya tibalah waktu yang dijanjikan bertemu dengan bos Ogo, seorang pengusaha kaya raya dengan proyek yang tersebar dimana-mana. Bertemulah Aep dan bos Ogo ditemani dua asistennya.
Aep pun menyampaikan kembali maksud dan tujuan nya menemui bos Ogo untuk meminjam uang sebesar 3M. Bos Ogo yang sedari tadi sudah menyiapkan uangnya mengajukan persyaratan “Jika nanti Aep terpilih menjadi kepala desa, semua proyek yang menjadi tugas Aep nanti, diambil alih oleh bos Ogo”. Tanpa pikir panjang dan tanpa memikirkan resikonya nanti Aep yang sudah tidak kuat ingin menjadi kepala desa menyetujui persyaratan yang di ajukan oleh Bos Ogo, Aep dan asistennya pun pulang dan merencanakan bahwa bagaimanapun caranya dalam pemilihan ke dua nanti Aep harus menjadi kepala desa.
Uang 3M ini harus sampai ketengah MK agar Aep menjadi kepala desa dengan kata lain Aep berlaku curang menyogok MK agar Aep menjadi kepala desa dikampungnya. Hari yang dijanjikan pun tiba dimana Aep harus memberikan uang 3M yang dipinjam dari bos Ogo kepada MK, Aep mempercayai dua asistennya untuk memberikan uang kepada MK. Asistennya yang tidak tahu bahwa MK itu adalah Mahkamah Konsistusi memberikan uang 3M kepada Mang Kardun disingkat menjadi MK.
Mang Kardun adalah seorang lelaki yang tidak mempunyai kerjaan,  hanya menonton tv dari pagi sampai malam. Istrinya yang jengkel melihat kelakuannya hanya bisa sabar sambil sering mengomel, ketika Mang Kardun dan istrinya sedang adu mulut tiba-tiba dikejutkan dengan suara orang yang sedang mengetuk pintu sangat keras istirnya yang sedang emosi keluar membuka pintu sambil bibirnya tak henti-henti kumat kamit.
Ketika membuka pintu Mang Kardun dan istrinya kaget melihat dua asisten Aep yang sedang berdiri didepan pintu sambil membawa tas koper gede berisi uang tanpa basa basi Mang Kardun menyuruh dua asisten Aep untuk masuk dan bertanya apa maksud dan kedatangan mereka ke rumah Mang Kardun.
Dengan jawaban yang singkat padat dan jelas dua asisten menyampaikan maksud dan tujuannya mereka datang kerumah Mang Kardun disuruh oleh juragan Aep untuk mengantarkan uang 3M kepada Mang Kardun disingkat menjadi MK dengan satu persyaratan asalkan Aep bisa menjadi kepala desa dengan cara MK atau Mang Kardun harus memilih Aep menjadi kepala desa di pemilu raya.
Mang Kardun yang heran, merasa aneh dan merasa ganjil sambil dalam hatinya terus bertanya-tanya “masa untuk memilih Aep menjadi kepala desa saja harus diberi imbalan sebesar 3M”. istri Mang Kardun yang sejak tadi merasa bahagia dan sudah membayangkan uang 3M untuk belanja, tanpa berfikir panjang langsung menyetujui syarat yang diajukan oleh dua asisten juragan Aep.
Diambilnya koper dar tangan dua asistennya sambil mulutnya tak henti mengucapkan terimakasih. Setelah memberikan uang itu, dua asistennya pulang kembali ke rumah Aep sang calon kepala desa. Setibanya dirumah, dua asistennya melapor bahwa “uang 3M sudah diberikan kepada MK, juragan Aep tinggal nunggu beres dan tinggal tunggu hasil” ujar ke 2 asistennya.
Hari itu pun datang hari dimana penentuan apakah Aep menjadi kepala desa ataukah kembali gugur? Ternyata pengumumannya Aep tidak terpilih lagi menjadi kepala desa. Aep heran dan tak hentinya bertanya-tanya “Mengapa dia tidak terpilih lagi padahal dia sudah menyogok MK dengan uang yang di ajukannya…” Bos Ogo yang mendengar berita bahwa Aep tidak terpilih lagi menjadi kepala desa akhirnya mendatangi rumah Aep. Dia tidak terima dengan kekalahan Aep meminta kembali uang 3M yang dipinjamkannya agar dikembalikan hari itu juga.
Aep yang bingung dan sedang menunggu dua asistennya yang tak kunjung datang akhirnya melobby bos Ogo untuk terus menunggu. Tiba-tiba datanglah dua asistennya itu dengan wajah tanpa dosa sambil berteriak memberi selamat kepada juragan Aep karena telah menang. Juragan Aep yang sedari tadi emosi langsung memukul dua asistennya sambil bertanya “Kemanakan uang 3M itu?”
Dengan tegasnya dua asistennya menjawab “ kan kata juragan kasihin ke MK”
“ MK siapa? Mahkamah Konsistusi?” Tanya Aep lagi
“Mahkamah Konsistusi? Bukan juragan, Mang Kardun’’
Seketika itupun semua orang teriak dan ternyata Aep tidak terpilih lagi menjadi kepala desa ‘’Sudah jatuh tertimpa tangga pula’’ mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk Aep sudah tidak terpilih menjadi kepala desa, perhiasan istrinya yang dijualpun tidak kembali tapi dia harus mengembalikan uang 3M kepada bos Ogo.
-          Kekurangan pada cerita ini menurut saya terletak pada akhir cerita yang kurang menegaskan pesan yang disampaikan oleh para pemain.
-          Kelebihannya pada cerita ini adalah walaupun mereka memainkan peran dengan cara yang disisipi humor tapi setidaknya kita mengerti dengan apa maksud dan tujuan yang pemain sampaikan.
Sekilas Mengamati Proses Produksi Longser di TVRI Jawa Barat
 Oleh Rifa'atul Masfufah Husna Alfarizh

Ketika saya menyaksikan proses produksi ke TVRI Jawa Barat, ternyata untuk menghasilkan sebuah acara itu tidak semudah yang dibayangkan. Sebelum shooting, para pengisi acara ada briefing juga ada yang latihan terlebih dahulu. Setting roomnya pun ternyata memerlukan tempat yang luas dan ruangan tinggi.
Tempat yang luas digunakan untuk panggung acara, properti dan juga lahan garapan cameramen. Sedangkan ruangan yang tinggi digunakan untuk penyimpanan lampu-lampu untuk pencahayaan dan mic gantung untuk merekam suara para pemain. Khusus untuk bagian cameramen, yang mengendalikannya harus orang yang sudah ahli atau minimal mempunyai pengalaman. Karena salah sedikit mengambil gambar, maka itu akan menjadi masalah besar yakni ditonton atau tidaknya acara itu, karena itu merupakan objek yang ditonton oleh masyarakat.

          Sebelum shooting dimulai, pengarah acara meminta penonton untuk turut berpartisipasi dalam acara tersebut. Yakni, ketika para pemain datang, kita disarankan untuk bertepuk tangan, dan ketika lawakannya lucu kita juga disarankan untuk tertawa dan mengomentari lawakan para pemain, tentunya dengan komentar yang dalam koridor batas kewajaran.
            Ketika shooting dimulai, one, two, three... action... (saat para pemain datang ke panggung acara, saat itu juga kita sebagai penonton mmemberikan tepuk tangan yang meriah). Karena kelucuan dari para pemain, setiap apa yang diperankan selalu mengandung gelak tawa para penonton. Ternyata saat shooting itu tidak sesempurna seperti saat penayangan di televisi, ada beberapa hal yang harus diatur oleh pengarah acara. Pemain yang telat datang, drama yang kurang sesuai dan lain sebagainya. Namun semua itu bisa diatur dengan baik, sehingga kita sebagai penonton tidak sadar dengan adanya beberapa kekurangan kecil itu.
            Itulah sekilas yang saya temui saat shooting dimulai, namun ketika saya ingin mengetahui proses produksi acara itu ternyata kami tidak diperbolehkan memasukinya, karena harus ada izin terlebih dahulu.
Longser Sangat Kental Dengan Improvisasi
Oleh Risma Ghinayatul M
Dari awal produksi, bisa terlihat dari segi persiapan antara pemain dan crew yang lain, saling kerjasama, juga membagi tugasnya masing-masing. Hal tersebut dilakukan agar acara yang akan berlangsung nanti berjalan sesuai dengan alurnya.
 Tak heran para crew yang lain saling sibuk dengan tugasnya masing-masing. Namun yang sangat disayangkan, saya sendiri bingung untuk menentukan mana saja tugas yang dipegang oleh setiap crew yang betugas. Dari hal yang terkait dengan pembagian tugas sebelum atau berlangsungnya acara.
Dapat dilihat dari segi pengkondisian acara, dari mulai cek sound, pengkondisian para penonton, pemain, penataan panggung, persiapan semua pemain dan yang lainnya, sudah menggambarkan kesiapan mereka untuk melangsungkan acara. Dengan demikian, kerjasama yang dilakukan sangatlah berpengaruh pada kesuksesan acara.
Pada hari Rabu, tepatnya pada tanggal 23 oktober di jalan Cibaduyut no.269 Bandung. Mahasiswa mengadakan kunjungan ke salah satu stasiun Televisi untuk mengetahui bagaimana berjalannya produksi yang nanti akan di tayangkan. Kunjungan yang mereka lakukan adalah untuk mengetahui bagaimana proses berlangsungnya acara, dari mulai persiapan sampai acara berlangsung.
Pelaksanaan Kunjungan mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2011 ini, didasari pada acara kunjungan dengan program sebagai mata kuliah Produksi Siaran Televisi, sebagaimana dikemukakan  dalam tujuan kegiatan, hal ini ditujukan agar setiap mahasiswa melihat kondisi aktual lapangan kerja dari jarak dekat dan berdialog langsung dengan pimpinan beserta jajarannya.
Acara yang berlangsung pada waktu itu adalah sebuah teater sunda yang disebut dengan Treatment Longser dengan judul “Katurug Katutuh” yang artinya “Sudah jatuh Tertimpa tangga”.
Mahasiswa yang bekunjung kesana bisa dapat melihat secara langsung, proses berlangsungnya acara, sehingga mahasiswa bisa lebih tau awal dari mulai persiapan hingga selesainya produksi.
Para mahasiswa sangat antusias dalam mengikuti acara, walaupun hanya menjadi penonton, tapi sedikitnya mereka tau bagaimana proses dari produksi yang dilakukan oleh para crew.
Treatment Longser
Treatment Longser yang dibawakan oleh para pemain bisa kita lihat dari mulai persiapan antar pemain sampai kolaborasi mereka dengan lawan mainnya. Sebelum berlangsungnya acara, terlebih dahulu mereka mempersiapkan penampilan mereka hanya dengan membaca naskah yang telah di berikan pada tiap-tiap pemain. Mereka hanya membaca naskah saja tanpa melakukan latihan rutin, yang mereka lakukan hanya berkumpul dan mengaplikasikan setiap peran yang sudah ditentukan dalam naskah. Hebatnya mereka, tanpa melakukan latihan rutin, mereka bisa langsung mengaplikasikan perannya masing-masing. Para pemain longser harus banyak berimprovisasi dalam acting dan dialognya.
Ketika acara akan dimulai, terlebih dahulu pembawa acara mengatur jalannya acara, dari mulai pengkondisian penonton, pemain, pemain musik dan yang lainnya. Berlangsunglah acara longser itu dengan di awali oleh tarian tradisional yang disebut dengan “jaipong”.
Setelah selesainya tarian tersebut, masuklah seorang laki-laki paruh baya yang sedang pusing memikirkan masalahnya karena tidak terpilihnya dia menjadi Kepala Desa, dia bernama Pak Aef, dialah yang menjadi tokoh utama dalam cerita itu. Dengan ditemani oleh tokoh pendukung yang menjadi lawan mainnya, diantara tokoh tersebut adalah
1.       Omoh : sebagai Istrinya pak Aef
2.       Barlin : sebagai asistennya Pak Aef
3.       Kabayan : sebagai anak buahnya Barlin
4.       Bos Ogo : sebagai orang yang banyak harta
5.       Mang Kardun : sebagai orang miskin
6.       Amoy : sebagai istrinya Mang Kardun

Para tokoh di atas adalah sebagian dari peran yang ada dalam naskah, mereka memerankan perannya masing-masing sesuai yang terkait dalam naskah. Mereka saling berkolaborasi satu sama yang lainnya, juga saling mendukung dalam berbagai hal.
Longser ini menceritakan tentang seorang calon Kepala Desa yang ingin terpilih menjadi Kepala Desa. Namun dari proses pemilihan Kepala Desa tersebut terjadi kecurangan dalam perhitungan suara, sehingga hal tersebut menjadi salah paham antara Pak Aef dengan anak buahnya.
Setelah mengetahui kecurangan yang terjadi pada, Pak Aef memarahi anak buahnya, dan meminta pertanggung jawaban atas kekalahannya menjadi Kepala Desa. Pak Aef memerintahkan anak buahnya untuk menghubungi MK, supaya dia diangkat menjadi Kepala Desa, setelahnya dihubungi, MK malah minta uang suap sebesar 3 Milyar.
Anak buahnya memberitahukan kepada Pak Aef terkait hal suap itu, kemudian Pak Aef menyuruh anak buahnya untuk meminjam uang kepada Bos Ogo. Diberilah uang tersebut dan diberikannya kepada MK.
 Setelah itu  Pak Aef tetap memarahi anak buahnya karna dia tetap saja gagal menjadi Kepala Desa, entah apa yang menjadi kendala gagalnya Pak Aef menjadi Kepala Desa, langsung saja dia minta penjelasan kepada si Barlin dan Kabayan terkait uang yang diberikan pada MK.
Anak buahnya menjelaskan berikut uang yang diberikan pada MK, dan ternyata uang yang mereka berikan salah sasaran, yang harusnya diberikan kepada MK (Mahkamah Konstitusi) malah diberikan pada MK (Mang Kardun). Karena si Barlin hanya tau MK itu singkatan dari “Mang Kardun”.
Bos Ogo beserta bodyguard nya menemui Pak Aef untuk membicarakan uang yang telah diberikan, tapi Bos Ogo malah marah-marah, karena uang yang dipinjamkan sama sekali tidak menjadikan Pak Aef sebagai Kepala Desa. Bos Ogo menagih kembali uang yang dipenjam oleh Pak Aef, tapi Pak Aef dan anak buahnya malah lari, dan akhirnya di kepung dan diberi pelajaran oleh bodyguardnya.

Pelajaran yang dapat kita ambil terkait masalah tersebut :
a.       Harus menjadi orang yang jujur
b.       Menerima kekalahan
c.       Jangan ceroboh
d.       Jangan lari dari masalah