Kecanggihan Teknologi dalam Film “Transcendence”

Catatan Lisnaningsih

            Transendence merupakan film keempat dari seorang sinemator terbaik, Wally Pfister. Sebelumnya, ia pernah menyutadrai film The Dark Knight (2008), Inception (2010) and The Dark Knight Rises (2012). Ia juga pernah dikategorikan sebagai sinematografer terbaik dan meraih Oscar lewat film inception (2010). Pria yang lahir pada 8 Juli 1961 kembali beraksi dengan imajinasi yang sangat di luar dugaan manusia. Itulah Transendence, sebuah film yang bercerita mengenai rekayasa teknologi computer, yang diperankan oleh Johnny Depp sebagai Doktor Will Caster dan Rebeca Hall sebagai istri Doktor Will Caster, Evelyn Caster.

            Perkembangan teknologi dari waktu ke waktu kian maju. Dalam sekejap, nampaknya teknologi akan merajai dunia. Dunia dikendalikan/dikontrol oleh teknologi, sama seperti manusia, tak ada ruang lagi untuk bergerak karena semuanya sudah diambil alih oleh teknologi. Wally Pfister  turut serta menuangkan imajinasinya yang serba luar biasa menjadi sebuah tayangan masa kini (masa modern).

            Film ini merupakan kenangan masa lalu Dokter Waters atau Max (Paul Bettany) mengenai dua orang temannya terkait keinginan mereka berdua mengubah dunia selama lima tahun silam. Film ini berawal dari seorang manusia yang jenius nan hebat, Dokter Will Caster memberikan kuliah tentang penemuannya yang akan mengubah dunia di aula Lab Komputer dan Penelitian. Dengan kata lain, Will akan menciptakan Tuhan-nya sendiri. Semacam kecerdasan buatan yang dibuat olehnya dari seperangkat teknologi komputer. Namun, sebuah insiden tak terduga menyerang dirinya. Ia ditembak oleh Joel Edmund begitu memberi tanda tangan kepada banyak orang setelah kuliahnya selesai. Joel Edmund adalah anggota dari kelompok RIFT (Revolusi Independen Dari Teknologi). Kelompok ini merupakan kumpulan orang-orang yang menolak akan teknologi atau kecerdasan buatan yang diciptakan oleh Will Caster.  Sehingga, mereka berencana akan menghancurkannya.



            Lalu, keingintahuan akan proyek PINN (Jaringan Syaraf Mandiri secara Fisik)  dari Agen Buchanan (pemerintahan), yaitu Donald Buchanan memaksa Will untuk memperlihatkan kepada mereka. PINN adalah sebuah teknologi computer yang berisi seperangkat prosesor kuantum. Computer ini merupakan computer tercepat di dunia. Teknologi yang diciptakan oleh Will ini memiliki kemampuan menangkap objek di hadapannya setelah semua data tentang objek itu ditransformasikan ke dalam PINN. Dan, ketika ditanya oleh Josep mengenai adanya kesadaran dalam teknologi PINN tersebut, ternyata nihil. Karena, PINN hanyalah sebuah mesin.

            Beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan Will mengalami gangguan. Kian hari makin memburuk. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh dokter yang mengobati Will, ternyata peluru yang menembus tubuhnya dilapisi cairan isotop berupa polonium. Cairan tersebut meninggalkan jejak di bekas lukanya. Dan ini adalah racun radiasi yang memungkinkan Will untuk bertahan hidup selama empat sampai lima minggu sebelum sistem tubuhnya mati.

            Melihat kondisi suaminya yang makin memburuk, Evelyn memutuskan untuk melakukan eksperimen yang pernah digunakan oleh Dokter Casey enam bulan yang lalu. Ide yang berupa pemindahan memori monyet ke dalam computer (duplikasi kecerdasan nyata) tersebut didapat saat dia mengirimkan semua berkas-berkas suaminya ke Laboratorim computer. Ia melihat gambar seekor monyet, lalu dia mempelajari semua berkas Dokter Casey. Idenya disampaikan kepada Max dan mendapat pertentangan. Tetapi, lama-kelamaan disetujui karena bagi Evelyn inilah satu-satunya cara menyelamatkan suaminya. 

            Setelah itu, ia dan Max menyiapkan sebuah ruangan dan seperangkat computer lengkap untuk memulai usaha penyelamatan suaminya. Proses pemindahan memori pun langsung dilakukan, seperti pengolahan bahasa, kriptografi, dan pengkodean. Proses pemindahan tersebut memakan waktu lama dan Will kondisinya masih buruk. Usaha penyelamatan Evelyn sia-sia, karena akhirnya Will meninggal dunia.

            Melihat usahanya yang sia-sia, ia memutuskan untuk mematikan PINN. Tetapi, Will hadir kembali dalam pertanyaan-pertanyaan yang membuat evelyn yakin bahwa itu adalah Will. Supaya daya Will tetap terpenuhi, ia ingin Evelyn menghubungkannya ke jaringan internet. Dengan begitu, teknologi tersebut bisa mengakses seluruh titik di belahan dunia, termasuk pasar saham dan perusahan-perusahaan.

            Di sisi lain, tim RIFT terus memantau aktivitas PINN. Begitu mengetahui bahwa computer itu masih berfungsi, mereka menyerang Evelyn. Dengan bantuan Will yang berasal dari teknologi computer itu, ia bisa melarikan diri dan menemukan tempat aman, yaitu Hutan Terang untuk mengembangkan teknologi itu lebih maju lagi.

            Perkembangan teknologi computer tersebut semakin maju. Orang-orang yang sakit, cacat, bahkan buta sejak lahir bisa disembuhkan oleh teknologi itu. Tetapi, kabar tersebut membuat cemas agen pemerintahan ( seperti Donald Buchanan (Cillian Murphy) dan Joseph Tagger (Morgan Freeman). Mereka bergabung dengan tim RIFT untuk menyadarkan orang-orang tentang teknologi yang super canggih. Dikarenakan Evelyn ialah satu-satunya orang yang selalu terhubungdengan teknologi itu, maka Max menyuntikan virus ke dalam tubuh Evelyn agar teknologi PINN dimasuki virus. Dan, upaya ini berhasil. Seketika itu pula dunia kembali lumpuh tanpa adanya teknologi.

Dalam film ini, memang  sutradara terlalu menonjolkan/show off perkembangan teknologi itu. Wally Pfister mengajak penonton hanya menjadi sebuah pendengar, kurang menunjukkan proses teknologi itu lebih rinci lagi.  Ia hanya menunjukkan keberhasilan dari kemajuan teknologi itu secara cepat. Padahal sudah jelas tergambarkan, bahwa teknologi canggih mampu melemahkan, merugikan dan melumpuhkan aktivitas manusia. Karena, di film ini manusia diambil alih posisinya oleh teknologi. Selanjutnya, narasi yang digambarkan masih sulit dicerna oleh penonton yang hanya menonton satu kali. Diksinya akan sedikit susah dipahami oleh mereka yang memiliki kerangka pemahaman sempit tentang science. Sehingga, diperlukan menonton film ini berulang-ulang agar dapat menangkap isinya.

            Dari sisi para pemain, semuanya memainkan peran dengan sangat bagus. Kekuatan chemistry yang dibangun di antara mereka terlihat begitu natural. Terlihat kesungguhan dari Rebbeca (Evelyn) untuk menyelamatkan hidup suaminya saat Johny Deep (Will Caster) sekarat. Juga, Paul Bettany (Max) begitu serius menolong Will Caster seolah-olah ia mendedikasikan hidupnya untuk seorang teman.

            Latar tempat yang digunakan sangat luar biasa. Artinya, film ini menunjukkan sebuah tempat yang tidak terawat menjadi tempat yang penuh dengan kecanggihan teknologi. Pengobatan yang ditunjukkan oleh teknologi computer itu terlihat begitu nyata, seperti betis terluka Martin yang disentuh langsung oleh teknologi kemudian kembali seperti semula, tanpa bekas luka sedikitpun, juga, sebuah mata yang dimasuki teknologi itu yang kemudian menjadi normal seperti biasanya.

Ide cerita yang diangkat sangat luar biasa. Teknologi computer yang super canggih bernama PINN benar-benar di luar dugaan manusia, dimana memori kita jika dipindahkan ke dalam PINN itu, PINN akan mengenali kita dan menduplikasi kita berdasarkan memori yang susah kita unggah.  Kecanggihan teknologi itu mampu mengakses asset-aset berharga, seperti pasar saham, perusahaan-perusahaan, menyuburkan ekosistem, menjernihkan semua perairan, dan yang lebih penting adalah menyembuhkan manusia tanpa dibantu oleh tangan manusia itu sendiri.  Juga, sama halnya dengan bangunan yang dijadikan sebagai tempat penelitian Evelyn. Di dalamnya berisi teknologi computer yang canggih. Sebuah tempat yang bisa dikatakan sebagai pabriknya semua alat-alat teknologi canggih.

Yang paling membuat saya kagum dan tercengang adalah ketika panel-panel surya utuh kembali setelah beberapa detik dihancurkan oleh Agen Pemerintahan. Keutuhan tersebut disebabkan karena partikel-partikel tanah terangkat dan menempel untuk membentuk panel surya seperti semula lagi. Juga, kembalinya Will Caster dalam wujud fisik. Padahal, sebelumnya ia hanyalah sebuah memori yang sudah diunggah ke computer. Saya berpikir, bagaimana mereka semua membuat adegan ini seolah-olah tampak nyata. Selanjutnya, imajinasi sang sutradara yang begitu tinggi. Di film ini, bukan lagi manusia yang menggunakan teknologi canggih, tetapi teknologilah yang mengendalikan manusia. Mengobati orang sakit/cacat bukan dilakukan oleh dokter yang menggunakan peralatan medis mutakhir, tetapi teknologi itu sendiri yang menggantikan posisi manusia sebagai dokter. Dengan kata lain, aktivitas manusia sudah terkendali dan tergantikan oleh teknologi computer itu.
           
Film bergenre sci-fi ini, layak ditonton. Film ini sama halnya dengan film Lucy, dimana jika otak kita dapat berfungsi 100%, maka benda bisa dikendalikan dari dalam tubuh, mengetahui proses aliran darah, dan sel-sel. Dan itu semua, akibat teknologi. Teknologi membawa dampak positif dan negative bagi kita. Dampak tersebut tergantung bagaimana cara kita menggunakan teknologi.
           


==========================================================
Judul Film       : Transcendence
Genre              : science-Fiction
Sutradara         : Wally Pfister
   Pemain /Cast  : Johnny Depp, Rebecca Hall, Paul Bettany, Kate Mara, Morgan Freeman, Cillian Murphy, Clifton Collins Jr., Josh Stewart.
Produser          : Broderick Johnson, Andrew A. Kosorve. Kate Cohen, Marisa Polvino, Annie Marter, David Valdes, Aaron Ryder
Durasi              : 119 menit

========================================================

1 komentar: