Kisah Persahabatan “Laura & Marsha”

Catatan Lisna Novita

Film ini berkisah tentang persahabatan Laura (Prisia Nasution), dan Marsha ( Adinia Wirasti). Laura, wanita karier dalam bidang jasa travel and tour harus bekerja demi buah hatinya, terlebih seelah Laura menjadi seorang single parent. Laura orangnya teratur, kaku, dan feminin. Sifat Laura bertolak belakang dengan Marsha, sahabat Laura yang juga seorang penulis buku perihal Travelling, hidupnya bebas, sikapnya lepas dan tomboy, tidak ambil pusing dan ribet segala hal.

 Sejak dulu mereka bercita-cita pergi ke Eropa. Tetapi kemudian nasib membawa hidup mereka ke rel masing-masing. Laura menikah dan mempunyai satu anak bernama Luna (Amina Afiqa Ibrahim), meski sang suami Ryan (Restu Sinaga) hilang entah ke mana. Sementara itu, Marsha hidup sebatang kara karena ditinggal ibunya.

Untuk mengingat dua tahun kematian ibunya Marsha, Marsha mengajak Laura untuk mewujudkan cita-citanya. Awalnya Laura menolak. Tetapi setelah satu kejadian, ketika pulang kerja, Laura tertabrak sebuah truck hingga megalami beberapa lupa ingatan. tabrakan yang hampir merenggut nyawanya, dan setelah sadar kembali, Laura mengiyakan ajakan tersebut.

Mulailah petualangan dua sahabat itu. Perjalanan berjalan mulus sampai akhirnya Marsha bertemu dengan Finn (Ayal Oost) di sebuah toko. Finn yang bersedia menjadi penunjuk jalan, dan akhirnya Finn menumpang mobil mereka. Ternyata Finn tidaklah bisa diandalkan. Lelaki itu menunjukan rute berputar untuk mencapai tujuan, dan akhirnya karena Laura merasa kesal, Laura meminta Marhsa untuk meninggalkan Finn ditengah perjalanan. Mulanya Marsha memamg tidak setuju dan terjadi sedikit persilisihan, namun karena kekesalan Laura yang memunack, akhirnya Marsha menuruti keinginan Laura untuk meninggalkan Finn di tengah perjalanan.
 
salahsatu adegan film Laura & Marsha
Di tengah perjalan, Laura dan Marsha kesasar. Mereka bertemu dengan bule-bule yang hendak menyerang, dan mau tidak mau mereka bedua meninggalkan mobil. Beruntung karena Marsha bisa membela, mereka berdua bisa terlepas dari serangan bule-bule  tersebut, di tengah perjalanan mereka menemukan sebuah tempat peristirahatan, sebuah gudang wine atau anggur menjadi tempat bermalam mereka, dan kacaunya mereka Kehilangan dompet, tas, dan paspor.

Keesokan harinya, dijalan mereka menumpang sebuah travel car milik band indie menuju Innsbruck. Tapi salah seorang dari mereka berlaku senonoh kepada laura ,Laura yg merasa dielecehkan tak bisa menutupi wajah tidak nyamannya kepada Marsha, dan akhirnya Marsha memutuskan untuk berhenti dijalan. Dengan keadaan uang habis, satu satunya jalan adalah mencuri sebuah roti ditoko bakery untuk mereka makan.

Konflik hebat terjadi antara mereka berdua disebuah cafe tempat mereka menginap. Konflik karena Laura tidak merasa jujur akan tujuan traveling ke Eropa karena ingin bertemu mantan suaminya Ryan. Marhsa merasa kesal dan menodong omongan tidak enak kepada Laura. Laura yang sama-sama kembali merasa kesal, mmelawan omomngan Marsha dengan mengungkapkan bagaimana ibunya Marsha meninggal berjuang melawan kanker dan menyadari anak semata wayangnya menderita serupa hingga rahim marsha diambil.

Konflik yg pelik hingga mereka harus memutuskan jalan sendiri sendiri. Bekerja sebagai pelayan ilegal disebuah cafe hanya untuk bertahan hidup beberapa hari. Hingga akhirnya pada suatu hari kepolisian imigrasi mencari DPO. Dengan sigap Laura berlari menuju bar dimana Marsha bekerja dan dengan pinjaman sebuah motor, Marsha lmengajak Laura untuk segera melanjutkan perjalanan untuk menuruti keinginan Laura bertemu Ryan. 

Namun setelah menemukan tempat tinggal Riyan, Laura merasa shok, karena sebenarnya lelaki yang ia tunggu-tunggu telah meninggal dunia, dan ditambah mengejutkan lagi, ternyata yang memberikan kabar tersebut adalah Finn, temen seperjalanan mereka.

Adegan di film ini memang banyak yang bisa dikatakan tidak masuk akal dan seolah memaksakan. Misalnya adegan disaat Laura dan Marsha diserang oleh bule-bule, empat orang bule menyerang dua gadis Asia, dan mereka  menghadapi empat orang bule bertenaga besar. Sangat ajaib ketika mereka bisa lari dari bule-bule itu dan bisa melawan.

Selain itu juga keganjilan pada adegan Laura dan Marsha bisa menumpang mobil sebuah grup band, menemukan ruangan (atau rumah) yang tidak berpenghuni, menemukan pekerjaan menjadi pelayan untuk menghidupi masing-masing. Dan terakhir adalah Marsha mendapat sewaan motor untuk mencari rumah Ryan. Ini semua sungguh ganjil kalau tidak mau disebut kebetulan yang ajaib.
Kendati demikian, film ini tetap sangat menarik. Film ini termasuk ke dalam genre road movie . Bukan saja penonton dibawa menikmati pemandangan indah Eropa tetapi juga percarian jati diri kedua sahabat tersebut. Pengambilan gambar yang cantik dan musik yang menyenangkan.

Adegan pertengkaran antara Laura dan Marsha merupakan adegan yang terbaik dalam film ini. Untuk pertama kalinya kedua sahabat ini “saling menyerang”.Persahabatan mereka dalam ujian berat. Kematangan akting Prisia Nasution dan Adinia Wirasti tampak dalam adegan ini.  Prisia Nasution berhasil menampilkan kegalauannya karena tingkah sahabatnya lewat gesture tubuh dan mimik wajah mulai dari munculnya Finn, resah didekati Hugo manajer grup musik hingga akhirnya meledak emosinya. Semua dilakukan dengan natural seperti terjadi di dunia realita.

Begitu juga Adinia Wirasti begitu cemerlang, begitu natural menghidupkan kharakter Marsha, seolah-olah dia memerankan dirinya sendiri. 
Kelebihan pertama dari Laura dan Marsha memang terletak pada akting gemilang Prisia Nasution dan Adinia Wirasti. Menurut saya sebuah road movie menarik bila kharakter antara para pelakunya kuat dan ada konflik antara mereka. Konflik antara dua manusia (bisa lebih) yang melakukan perjalanan adalah hal realistis, karena watak asli akan terlihat. Jangankan antara dua sahabat, orang yang berhubungan darah di tempat terasing akan teruji hubungannya.

Meskipun dalam kisah ini terdapat dua klimaks, namun tidak membuat Namun bagi yankisah persahabatan ini menjadi tidak jelas. Penonton yang  menyukainya akan membawa pulang tidak hanya hiburan, tetapi juga makna yang mendalam. Klimaks pertama saat mereka bertengkar, dan klimaks kedua disaat Marsha mengetahui kalau Ryan sudah meningal.

=============================================
Sutradara         : Dinna Jasanti
Produser          : Leni Lolang
Penulis             : Titien Watimena
Pemeran          : Adinia Wirasti, Prisia Nasution
Sinematografi  : Roy Lolang
Penyunting      : Aline Jusria
Tanggal Liris   : 30 Mei 2013

Durasi              : 107 menit

=============================================

2 komentar:

  1. Good Article. I am interested with your article. I also have similar articles about Indonesia you can visit Information Regarding Indonesia for more info

    BalasHapus
  2. Saya tertarik dengan tulisan anda mengenai Psikologi. Perkembangan psikologi manusia sekarang ini harus sangat diperhatikan agar mereka tidak berkembang dengan mental yang salah. Saya memiliki beberapa tulisan sejenis mengenai psikologi yang dapat dilihat di www.ejournal.gunadarma.ac.id

    BalasHapus