Nasionalisme di Perbatasan dalam Film “Tanah Surga, Katanya”

Catatan Muhammad Shendy A

            Tanah Surga, Katanya adalah film yang menceritakan tentang keluarga kecil di dusun dekat kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2012 yang disutradarai oleh Gatot Brajamusti (Eks. Pro), Deddy Mizwar (Eks. Pro), dan Bustal Nawani (Pro.) ini menggambarkan betapa tanah air perlu dicintai.

Cerita berawal dari kepulangan seorang duda bernama Haris (Ence Bagus) dari Serawak, Malaysia. Pria yang merasa dirinya telah sukses di negeri seberang tersebut merupakan ayah dari Salman (Osa Aji Santoso) dan Salina (Tissa Biani Azzahra). Selama kepergiaan Haris, kedua anaknya diasuh oleh sang kakek, yakni Hasyim (Fuad Idris) yang telah lama mengidap penyakit jantung. Sebagai satu dari sejumlah pejuang dwikora, Hasyim kerap menanamkan nilai-nilai nasionalisme kepada  cucunya melalui kisah-kisah perjuangan.

Konflik mulai tumbuh semenjak Haris menceritakan keadaan mujurnya selama berdagang di Malaysia kepada Hasyim, sebab, Haris berniat mengajak si kakek dan kedua anaknya pindah ke Malaysia. Sayangnya, dengan tegas, Hasyim menolak, meski tidak untuk Salina. Akhirnya, Salman dan Hasyim tetap tinggal, sementara Haris pergi bersama anak perempuannya tersebut.

Tak bisa dipungkiri, memang, keadaan di perbatasan lebih buruk ketimbang Malaysia. Mulai dari ketiadaan listrik, dokter yang hanya seorang, jalanan bebatuan, sulitnya mencari kebutuhan dikarenakan tidak adanya toko, hingga fasilitas pendidikan yang jauh dari kata layak.

Astuti (Astri Nurdin), satu-satunya pengajar di satu-satunya sekolah daerah perbatasan. Sekolah yang sebelumnya vakum selama setahun karena kekosongan guru. Perjuangan wanita berparas elok tersebut ditemani oleh dokter baru bernama Anwar (Ringgo Agus Rahman) atau yang akrab disebut dokter intel. Meski tampak saling menyukai satu sama lain, namun keduanya tetap fokus mengurusi penduduk dusun.




Seiring berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar dan pengobatan, penyakit Haysim pun kian menjadi-jadi. Hal itu membuat Salman tak mau tinggal diam dan kemudian bekerja keras mencari biaya pengobatan sang kakek. Kejadian menarik terjadi di pasar Serawak ketika terlihat oleh Salam seorang pedagang yang menjadikan bendera pusaka Indonesia sebagai bungkus dagangan. Nilai nasionalisme Salman yang telah subur membuatnya tak rela melihat peristiwa itu. Ia pun melakukan barter, satu sarung beliannya ditukar gratis dengan bendera tersebut demi menghargai Indonesia.

Di suatu malam, tak lama setelah Salman menyelamatkan bendera pusaka dari tangan pedagang pasar Serawak, Hasyim sekarat. Dokter Anwar, Astuti, dan Salman membawanya ke rumah sakit Malaysia melalui sebuah danau dengan perahu. Di waktu yang sama, Haris tengah mendukung Malaysia dalam pertandingan sepak bola melawan Indonesia, sedangkan Salina disuruhnya menunggu seraya melukis. Di tengah danau, di tengah kesedihan, sontak Hasyim melepaskan nafas terakhirnya dengan berkata kepada Salman, “Genggam erat cita-citamu. Katakan kepada dunia dengan bangga, ‘Kami bangsa Indonesia,” lalu mengucapkan kalimat thayyibah. Sementara itu, Haris sedang meneriaki kemenangan Malaysia. Melalui telepon, dengan gembiranya Haris mengabarkan berita kemenangan itu kepada Salman yang kala itu dalam keadaan bercucuran air mata di atas perahu melihat sang kakek telah wafat. Haris yang mendengar kabar kematian Hasyim langsung terdiam dan berbalik kebelakang melihat Salina yang sedang mengangkat hasil lukisannya. Dua kali terkejut, ternyata yang dilukis Salina adalah gambar Haris, Salman, Salina, dan si kakek yang tengah bersama.


Memang terlihat kurangna penguatan beberapa dialog pemeran terkait Indonesia sebagai taman surga, yang kurang tervisualisasi. Eksplorasi keindahan alam dan nuansa desa pun tidak maksimal. Namun nilai nasionalisme yang disuguhkan boleh diacungi jempol, sebab sindiran yang dirangkai begitu tampak nyata dsekaligus menyadarkan para penonton akan kurangnya nilai nasionalisme mereka terhadap Indonesia.


Judul Film                  : Tanah Surga, Katanya
Sutradara                   : Herwin Novianto
Penulis Skenario        : Danial Rifky
Pemeran                     : Osa Aji Santoso, Norman R. Akyuwen, Andre Dimas Apri,
                                    Tissa Biani Azzahra, Ence Bagus, Gatot Brajamusti,
                                    Harmonika, Frosentiaus Lanyo, Deddy Mizwar, Astri
                                    Nurdin, Agus Rahman, Ringgo Agus Rahman, Anisa Putri
                                    Ranidita, Andriyanus Riyan, Muhammad Rizky, Eko Adi
                                    Saputro, Luqyaanaa Audrei Surikat, Fransiskus Xaverius.
Produksi                     : PT. Demi Gisela Citra Sinema, PT. Gatot Brajamusti Films
Genre                         : Drama Satire
Tahun                         : 2012

1 komentar: