Amparan Sajadah

Cipt: Doel Sumbang
Dipopulerkan Oleh: Detty Kurnia

Dina amparan sajadah
Abdi sumujud pasrah
Diri nu lamokot ku dosa
Nyanggakeun sadaya-daya

Dina amparan sajadah
Abdi sumujud pasrah
Mundut pangampura Gusti
Ya Allah Robbul Izzati

Taya deui panglumpatan
Taya deui pamuntangan
Mung Allah Pangeran Abdi
Pangeran anu sajati

Arti
Dalam hamparan Sajadah
aku sujud pasrah
diri berlumur dosa
pasrah segalanya

Dalam hamparan Sajadah
aku sujud pasrah
mohon ampunan Tuhan
Ya Allah Rabbul Izzati

Tiada lagi pelarian
Tiada lagi tempat berpwgNG
hanya Allah Tuhanku
Tuhan yang sejati


Pengakuan Berarti Kepasrahan
Bagi yang percaya bahwa ada suatu dzat yang lebih Maha sempurna dari yang sempurna, suatu dzat yang kuat dari kekuatan yang ada, dan tidak akan ada sesuatu yang bisa menandingi keberadaan-Nya, tentu segala persoalan akan ia kembalikan kepada sesuatu yang Maha sempurna tersebut.
Artinya, seberapa pun kekuatan manusia untuk menyelesaikan segala persoalan dan musibahnya yang menimpa, maka tidak akan berarti apa-apa, jika suatu Yang Maha Perkasa tidak pernah ikut ambil bagian dalam membantu menyelesaikan persoalannya.
Inilah sebuah pengakuan. Seberapa pun hebatnya manusia, tidak ada yang lebih hebat selain yang mengenggam seluruh alam ini. Dan, seberapa pun sucinya manusia, tetap manusia adalah tempatnya kesalahan dan kekhilafan (kecuali yang dimaksum dan disucikan).
Sebuah lagu sunda, Dina Amparan Sajadah, yang ketika mendengarkannya membuat hati saya tersentuh. Sangat filosofis. Terlepas, dari filosifi awal sang pencipta tagu ini, perkenankan saya untuk menafsirkan sesuai dengan apa yang saya pahami.
Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Diri nu lamokot ku dosa. Nyanggakeun sadaya-daya
Dina amparan sajadah. Abdi sumujud pasrah. Mundut pangampura gusti. Ya Allah Robbul Izzati.
Jelas, bahwa manusia tidak punya kekuatan secuil pun jika dibandingan dengan Sang Penggenggam alam ini. Teu aya daya sareng upaya, anging Allah Swt. Pasrah di sini berarti mengakui akan kebesaran Allah Swt.
Inilah, sebuah pengakuan hakiki seorang hamba. Ketika dirinya sudah tidak sanggup lagi untuk menyesaikan seluruh persoalan yang terjadi, maka layaknyalah bergantung pada yang menciptakan masalah. Konsekuensi sebagai makhluk beriman.
Artinya, sedikit pun kita tidak punya hak untuk menyalahkan Tuhan. Karena bisa jadi segala musibah yang menimpa kita merupakan perbuatan manusia sendiri. Alhasil, kita harus mampu mengkosongkan ke-“aku’-an kita sebagai makhluk. Ketika, pengosongan itu berhasil kita lakukan, maka semua persoalan, semua permasalahan kita serahkan sepenuhnya kepada sang pencipta. Kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin mencegah terjadinya musibah tersebut. Karena bisa jadi, segala derita yang terjadi di bumi disebabkan karena ulah manusia sendiri.
”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karen perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Ar-Ruum [30]: 41)
Banjir, karena kita membuang sampah sembarangan. Longsor, karena hutan-hutan kita gunduli. Kemiskinan, karena uangnya dikorupsi. Pengangguran, karena kapitalisme merajalela. Maka, wajar jika berbagai problem di negeri ini begitu sulit ditanggulangi.***(Sofa Nurjajilah)

0 komentar: