Cerita Longsér Katurug Katutuh

Oleh Isnaini Maulina
            Katurug Katutuh Atau Sudah Jatuh Tertimpa Tangga sebuah cerita yang diangkat dari fenomena yang terjadi di kehidupan masyarakat, sebuah ambisi untuk menjadi seorang kepala desa yang akhirnya memilih jalan pintas untuk menghalalkan segala cara agar keinginannya bisa terwujud. Namun apa daya, segala sesuatu yang didapatkan dengan cara yang salah akan membawa malapetaka yang akhirnya memberikan pelajaran tersendiri kepada para pelakunya.
            Alkisah, hiduplah sebuah keluarga di sebuah desa yang asri dan sederhana. Tinggallah seorang kepala keluarga bernama Aep yang berambisi merubah kehidupannya yang biasa menjadi luar biasa dengan cara mencalonkan diri sebagai kepala desa. Segala usaha ia lakukan untuk menang dalam pemilihan. Sawah berhektar-hektar pun tak luput dari penjualan untuk modal kampanye agar dirinya berhasil dalam pemilihan kepala desa tersebut.
            Pemilihan pun berlangsung. Namun, bukan namanya lah yang menduduki suara terbanyak. Betapa marah dan kecewanya ia begitu mengetahui bahwa bukan namanya lah yang menjabat sebagai kepala desa yang baru. Ia pun segera memanggil seluruh tim suksesnya untuk mempertanggung jawabkan tentang hasil yang mengecewakan ini. Tak butuh waktu lama, tim sukses yang beranggotakan dua orang itu langsung memenuhi panggilan atasannya itu.
Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai tugas yang dilakukannya selama ini untuk mensukseskan atasannya dalam pemilihan itu, akhirnya mereka memberikan solusi untuk bisa tetap memenangkan jabatan kepala desa, yaitu dengan cara menghubungi MK untuk mengajukan banding agar bisa dimenangkan dalam pemilihan kepala desa tersebut. Namun, ternyata tidak mudah untuk begitu saja maju ke tingkat banding, butuh dana 3 milyar sebagai pelicin agar segala sesuatunya bisa berjalan lancar.

Adegan Longser
Karena ambisi yang sangat tinggi, akhirnya Aep dan kedua tim suksesnya mendatangi salah satu pengusaha yang diharapkan bisa meminjamkan uang kepadanya. Sang pengusaha siap meminjamkan modal sebanyak 3 milyar tersebut dengan syarat jika nanti Aep sudah menjadi kepala desa, segala program kerjanya harus atas persetujuan pengusaha tersebut. Selain itu, Aep juga harus mau mengikuti segala keinginannya saat Aep terpilih menjadi kepala desa. Tanpa pikir panjang, Aep pun menyetujui persyaratan itu.
Setelah dana 3 milyar tersebut cair, kedua tim suksesnya langsung mengantarkan uang itu kepada MK. Namun apa daya, karena sifatnya yang ceroboh dan tidak teliti, mereka berdua salah sasaran. Uang 3 milyar yang seharusnya di berikan kepada MK (Mahkamah Konstitusi) malah diberikan kepada MK (Mang Kardun).
Mang Kardun yang tidak tahu apa-apa sangat senang menerima ‘uang kaget’ sebanyak itu. Ditambah lagi keadaan keluarganya yang tengah membutuhkan biaya untuk hidup. Istri dan Mang Kardun bertanya-tanya mengenai uang yang tiba-tiba diberikan kepada mereka, namun kedua tim sukses itu tak menjelaskan apapun dan langsung pergi begitu saja. Sang istri dan Mang Kardun hanya bisa bersyukur menerima rezeki yang tak disangka-sangka dan mereka pun bergegas pergi membeli kebutuhan yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidupnya.
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, saat pengesahan dan sambutan pertama yang akan dilakukan oleh kepala desa yang baru. Betapa antusias dan bangganya Aep, ia pun bersiap untuk memberikan sambutan kepada warga masyarakat atas terpilihnya menjadi kepala desa nanti. Namun apa yang terjadi, bukan namanya lagi yang dipanggil untuk mengisi sambutan sebagai kepala desa yang baru. Saat ia menanyakan kepada tim suksesnya apakah uang 3 milyar itu sudah sampai ke tangan MK, mereka pun menjawab bahwa mereka sudah memberikan uangnya kepada Mang Kardun yang mereka anggap adalah MK yang dimaksud. Pada saat yang bersamaan pula datang pengusaha yang menagih janjinya jika ia sudah terpilih menjadi kepala desa. Apa daya, Aep hanya bisa menghisap jempol atas apa yang terjadi pada dirinya. Berharap menjadi kepala desa, tetapi hanya hutang dan kekecewaan yang harus ia telan bulat-bulat dengan penuh penyesalan.***

0 komentar: