Ketika Longsér Digarap Televisi

Oleh SESTIANA DAMAYANTI
            LONGSER merupakan salah satu jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Priangan, khususnya di daerah Bandung  Dari beberapa sumber disebutkan bahwa sekitar tahun 1915 di Bandung terdapat sebuah pertunjukan rakyat yang disebut DOGER.  Dalam perkembangannya doger berubah menjadiLENGGER  kemudian berubah lagi menjadi LONGSER.
Pengertian dari longser belum ditemukan secara pasti apa artinya. Akan tetapi beberapa keterangan mengaitkan pengertian itu dalam kirata basa. Di dalam bahasa Sunda, ada yang dinamakan kirata basa (akronim) kependekan dari dikira-kira tapi nyata. Long dari kata melongyang artinya memandang dan berartinya ada sesuatu rasa, hasrat, atau gairah seksual. Namun tampaknya pengertian itu hanya dikarang-karang saja karena belum tentu kebenarannya, terlihat seperti terlalu dipaksakan.
Bentuk pertunjukan longser adalah teater rakyat yang di dalamnya terdapat unsur tari, nyanyi, lakon yang di dalamnya sarat dengan lelucon. Biasanya dipertunjukan pada malam hari di tempat terbuka dengan menggelar tikar. Secara otomatis penonton pun membuat setengah lingkaran seperti tapal kuda.
Namun longser yang menjadi salah satu program TVRI Jawa Barat mengemasnya dengan cara yang berbeda yakni longser TVRI ini dipertunjukan dalam sebuah ruangan dengan background hitam yang melambangkan keadaan di malam hari dengan hiasan kertas warna berwarna emas sehingga pabila di sorot kamera seolah-olah adalah sebuah bintang. Walaupun umumnya pertunjukan malam hari, namun kadangkala dipertunjukan pula siang hari dengan istilah lain yaitu lontang.

Pada tayangan longser di TVRI yang tayang setiap pukul 15.00 ini, penataan panggung begitulah lumayan modern dan longser yang biasanya di teringai dengan sumbu-sumbu api, kini telah berkembang dengan lampu-lampu yang menggantgung diatas langit-langit tempat syuting, lalu dilihat dai segi alat musik pun longser yang tayang di TVRI pun tidak menggunakan gamelan-gamelan yang dulunya diletakan ditengah. Tetapi menggunakan gamelan atau alat musik yang modern seperti keyboard,gitar,dll. 
Dari segi sajian penampilanpun. Longser di TVRI ini disajikan dengan cara show bukan mengamen seperti halnya longser dulu. Disini sudah lah nyata bahwa longser sudah dikemas dengan sekian ide-ide yang tak tetapi, tidak menghilangkan khas dari longser tersebut.
Dari segi alur cerita yang diamati pada syuting longser tanggal 20 oktober 2013 kurang begitu bisa difahami pesan moral yang dapat di petik. Namun pabila dilihat dari sisi lain dari segi pemain sudah sangat bagus hanya saja ada beberapa orang kurang aktif dalam lawakannya.
Dilihat dari segi pengambilan gambar, kamerawan-kamerawan mungkin sudahlah orang yang ahli karena dilihat dari segi pengambilan gambar itu bagus. Dan lagi salah satu kebanggaan lain yakni pada longser yang disiarkan di TVRI ini yakni pemeran dari longser ini adalah kebanyakan anak-anak kalangan muda yang mana itu sedikit acuan untuk pemuda lainnya bahwa sanya budaya sunda itu haruslah dilestarikan, karena kebudayaan itu mahal harganya.

0 komentar: