Ketika Nyogok Salah Sasaran; Sebuah Cerita Longser di TVRI Jabar

Oleh Novia Try Widyaningrum
Cerita dalam longser “Katurug Katutuh” mengisahkan  seorang lelaki yang bernama Aep Saepulloh, yang telah mencalonkan diri sebagai kepala desa. Lelaki ini mempunyai seorang istri bernama Amoh, wanita berpostur tubuh pendek ini adalah wanita yang sangat baik dan sabar selalu menemani Aep dalam suka maupun duka.
Aep sang lelaki yang menyalonkan diri sebagai kepala desa dibantu oleh dua orang asistennya. Pada pemilihan putaran pertama, Aep yang sudah menyalonkan diri sebagai kepala desa ternyata kalah karena kurangnya pendukung, Aep yang saat itu sudah berjuang mati-matian hingga titik darah penghabisan tidak terima dengan kekalahannya, akhirnya Aep pun konsultasi dengan dua asisten tim suksesnya itu.
Setelah berbincang-bincang panjang lebar, akhirnya dua asisten menemukan solusi jika Aep ingin terpilih menjadi kepala desa, maka Aep harus mengajukan banding kepada MK (Mahkamah Konstitusi). Tanpa berfikir panjang Aep langsung menerima usulan dua asistennya tersebut. Dengan penuh semangat, Aep yang sedari tadi duduk tiba-tiba langsung menelpon MK.

Di dalam perbincangan lewat telepon itu, MK berkata kepada Aep “Jika ingin naik banding maka Aep harus menyiapkan uang sebesar 3M (Miliyar)”. Aep yang seketika bersemangat tadi tiba-tiba wajahnya menjadi murung dan tidak karuan, seketika itupun Aep langsung menutup teleponnya. Aep duduk kembali dengan wajah yang amat kusut dan putus asa, melihat wajah Aep 2 asisten nya langsung bertanya “Bagaimana jadinya juragan? bisa?” Tanya salah satu asitennya
“Gawat aduh harus ada uang 3M” Aep menjawabnya
“3M? Banyak banget” Jawab nyai Amoh, tiba-tiba langsung duduk didekat Aep
“Bagaimana coba, mana saya sedang tidak memegang uang sepeserpun” kata Aep
“Mmmm” Dua asistennya sedang berfikir
“Ya, sok atuh nih jual saja perhiasan saya…” kata nyai Amoh dengan suara sedih dan pasrah sambil melepaskan gelang kalung dan cincin yang dipakainya.
Aep yang seketika terharu melihat pengorbanan Nyai Amoh tiba-tiba memeluk sambil berkata “Terimakasih sayang…”
Nyai Amoh yang hanya tersenyum sambil memeluk balik Aep sambil berkata “Kalo nanti kepilih beliin aku perhiasan yang banyak,”
Suasana terharu pun mendadak menjadi biasa kembali karena ulah nyai Amoh, akhirnya dua asistennya disuruh Aep untuk menjual perhiasan nyai Amoh. Setelah kepergian dua asistennya Aep bepfikir barang apalagi yang harus dia jual demi uang 3M. tak lama kemudian datanglah dua asisten dengan membawa uang hasil dari perhiasan nyai Amoh
“Tidak cukup juragan uangnya juga…” kata salah satu asistennya
“Aduh, bagaimana ini barang apalagi yang harus saya jual uang saya sudah habis dipakai untuk kampanye kemarin” jawab Aep dengan muka yang sedih
“Ahaaa, saya tau juragan apa yang harus juragan lakukan sekarang…” kata salah satu asistennya
“Apa sok apa?” jawab Aep
“Jadi begini saya mempunyai kenalan seorang pengusaha yang kaya raya siapa tau dia bisa membantu juragan beliau orangnya sangat baik dan dermawan siapa tau beliau bisa meminjamkan juragan uang” kata salah satu asistennya
“Ide baguuus itu, mana ayo kita kontek pengusaha itu” jawab Aep dengan raut muka yang gembira
“Ini juragan, namanya boss Ogo!” kata salah satu asistennya sambil memberikan nomer hp bos Ogo
Setelah berbincang-bincang panjang lebar bersama boss Ogo dan menentukan waktu untuk bertemu akhirmya tibalah waktu yang dijanjikan bertemu dengan bos Ogo, seorang pengusaha kaya raya dengan proyek yang tersebar dimana-mana. Bertemulah Aep dan bos Ogo ditemani dua asistennya.
Aep pun menyampaikan kembali maksud dan tujuan nya menemui bos Ogo untuk meminjam uang sebesar 3M. Bos Ogo yang sedari tadi sudah menyiapkan uangnya mengajukan persyaratan “Jika nanti Aep terpilih menjadi kepala desa, semua proyek yang menjadi tugas Aep nanti, diambil alih oleh bos Ogo”. Tanpa pikir panjang dan tanpa memikirkan resikonya nanti Aep yang sudah tidak kuat ingin menjadi kepala desa menyetujui persyaratan yang di ajukan oleh Bos Ogo, Aep dan asistennya pun pulang dan merencanakan bahwa bagaimanapun caranya dalam pemilihan ke dua nanti Aep harus menjadi kepala desa.
Uang 3M ini harus sampai ketengah MK agar Aep menjadi kepala desa dengan kata lain Aep berlaku curang menyogok MK agar Aep menjadi kepala desa dikampungnya. Hari yang dijanjikan pun tiba dimana Aep harus memberikan uang 3M yang dipinjam dari bos Ogo kepada MK, Aep mempercayai dua asistennya untuk memberikan uang kepada MK. Asistennya yang tidak tahu bahwa MK itu adalah Mahkamah Konsistusi memberikan uang 3M kepada Mang Kardun disingkat menjadi MK.
Mang Kardun adalah seorang lelaki yang tidak mempunyai kerjaan,  hanya menonton tv dari pagi sampai malam. Istrinya yang jengkel melihat kelakuannya hanya bisa sabar sambil sering mengomel, ketika Mang Kardun dan istrinya sedang adu mulut tiba-tiba dikejutkan dengan suara orang yang sedang mengetuk pintu sangat keras istirnya yang sedang emosi keluar membuka pintu sambil bibirnya tak henti-henti kumat kamit.
Ketika membuka pintu Mang Kardun dan istrinya kaget melihat dua asisten Aep yang sedang berdiri didepan pintu sambil membawa tas koper gede berisi uang tanpa basa basi Mang Kardun menyuruh dua asisten Aep untuk masuk dan bertanya apa maksud dan kedatangan mereka ke rumah Mang Kardun.
Dengan jawaban yang singkat padat dan jelas dua asisten menyampaikan maksud dan tujuannya mereka datang kerumah Mang Kardun disuruh oleh juragan Aep untuk mengantarkan uang 3M kepada Mang Kardun disingkat menjadi MK dengan satu persyaratan asalkan Aep bisa menjadi kepala desa dengan cara MK atau Mang Kardun harus memilih Aep menjadi kepala desa di pemilu raya.
Mang Kardun yang heran, merasa aneh dan merasa ganjil sambil dalam hatinya terus bertanya-tanya “masa untuk memilih Aep menjadi kepala desa saja harus diberi imbalan sebesar 3M”. istri Mang Kardun yang sejak tadi merasa bahagia dan sudah membayangkan uang 3M untuk belanja, tanpa berfikir panjang langsung menyetujui syarat yang diajukan oleh dua asisten juragan Aep.
Diambilnya koper dar tangan dua asistennya sambil mulutnya tak henti mengucapkan terimakasih. Setelah memberikan uang itu, dua asistennya pulang kembali ke rumah Aep sang calon kepala desa. Setibanya dirumah, dua asistennya melapor bahwa “uang 3M sudah diberikan kepada MK, juragan Aep tinggal nunggu beres dan tinggal tunggu hasil” ujar ke 2 asistennya.
Hari itu pun datang hari dimana penentuan apakah Aep menjadi kepala desa ataukah kembali gugur? Ternyata pengumumannya Aep tidak terpilih lagi menjadi kepala desa. Aep heran dan tak hentinya bertanya-tanya “Mengapa dia tidak terpilih lagi padahal dia sudah menyogok MK dengan uang yang di ajukannya…” Bos Ogo yang mendengar berita bahwa Aep tidak terpilih lagi menjadi kepala desa akhirnya mendatangi rumah Aep. Dia tidak terima dengan kekalahan Aep meminta kembali uang 3M yang dipinjamkannya agar dikembalikan hari itu juga.
Aep yang bingung dan sedang menunggu dua asistennya yang tak kunjung datang akhirnya melobby bos Ogo untuk terus menunggu. Tiba-tiba datanglah dua asistennya itu dengan wajah tanpa dosa sambil berteriak memberi selamat kepada juragan Aep karena telah menang. Juragan Aep yang sedari tadi emosi langsung memukul dua asistennya sambil bertanya “Kemanakan uang 3M itu?”
Dengan tegasnya dua asistennya menjawab “ kan kata juragan kasihin ke MK”
“ MK siapa? Mahkamah Konsistusi?” Tanya Aep lagi
“Mahkamah Konsistusi? Bukan juragan, Mang Kardun’’
Seketika itupun semua orang teriak dan ternyata Aep tidak terpilih lagi menjadi kepala desa ‘’Sudah jatuh tertimpa tangga pula’’ mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk Aep sudah tidak terpilih menjadi kepala desa, perhiasan istrinya yang dijualpun tidak kembali tapi dia harus mengembalikan uang 3M kepada bos Ogo.
-          Kekurangan pada cerita ini menurut saya terletak pada akhir cerita yang kurang menegaskan pesan yang disampaikan oleh para pemain.
-          Kelebihannya pada cerita ini adalah walaupun mereka memainkan peran dengan cara yang disisipi humor tapi setidaknya kita mengerti dengan apa maksud dan tujuan yang pemain sampaikan.

0 komentar: