Menanti Tarian Gadis Kecil

Oleh Rizabul Husna Mubarok

Melihat di sekeliling  TVRI Jawa Barat, di kawasan Jl. Cibaduyut, Bandung, nampak dari depan seperti tidak ada aktifitas siaran ataupun proses produksi di dalamnya. Ini dikarenakan di halaman depan stasiun televisi negri ini hanya terlihat sebuah pameran  layaknya pasar malam. Layaknya sebuah pameran rakyat dalam sebuah lapangan terbuka. Namun, ketika melihat lebih dalam lagi, di ruangan utama produksi siaran baru nampak seperti ada kegiatan produksi siaran ataupun sebagainya.
Benar saja, dalam ruangan itu nampak beberapa penari cilik sedang melakukan berbagai persiapan untuk menunjukkan sebuah tarian tradisional untuk tampil di atas panggung dan kamera yang siap merekam tarian sekelompok anak kecil ini. Di ruangan studio pun terlihat orang-orang mondar-mandir, entah itu hanya sekedar pengunjung ataupun sebagian crew dari stasiun televisi yang berada di kawasan cibaduyut ini.
Dalam kesempatan seperti ini, bertemu dengan seorang sutradara, beberapa kawan saya pun tidak lupa untuk mengajukan beberapa pertanyaan terkait kegiatan yang ia komandoi. Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu di tujukan untuk lebih mengetahui hal-hal teknis dari sebuah kegiatan di depan kamera.

 Tak lama berselang, sebuah kegiatan pentas seni-pun dimulai. Dugaan saya, kami digiring ke stasiun televisi ini hanya sekedar untuk melihat dan mengamati sekelompok anak kecil yang beraksi di depan kamera. Anak-anak usia SD menari di depan, sementara kami hanya menonton dan mengamati tarian mereka. Terlintas sejenak dalam fikirku, seperti ada sebuah ledekan kepada kami karena kami digiring kesini hanya untuk sebatas melihat atraksi yang dilakukan anak-anak SD yang semuanya adalah perempuan.
Disisi lain juga, saya merasa bangga dengan kelebihan mereka di dunia seni, khususnya seni tari karena melihat dari kostum dan assesoris yang digunakan. Para anak-anak itu memakai kostum dan assesoris yang merupakan pakaian tradisional. Kebanggaan ini bukan hanya tertuju pada sekelompok anak-anak itu saja, terlebih kepada pelatih mereka yang senantiasa melatih dan mendidik generasi penerus bangsa sejak dini. Mereka telah di mengenalkan budaya-budaya tanah kelahiran mereka yang hampir saja pada zaman sekarang menjadi barang langka yang sulit di temui. Keadaan ini malah membuat rasa penasaran akan penampilan para gadis cilik itu. Seakan mereka akan memberi materi tersirat melalui tarian mereka.
Sedang asyik dengan berbagai kata dan kalimat yang lalu-lalang di fikiran saya, ada seseuatu yang membubarkan sebuah lamunan yang tidak konsisten ini, karena merasa sedang diledek dan disisi lain ada sebuah kebanggaan. Terlihat dua gadis remaja sedang asyik menari di atas panggung dengan diiringi musik untuk beberapa saat sebelum pertunjukan dimulai. Dilihat secara fisik, kedua gadis itu terlihat kurang cocok dalam tarian itu, karena berbedanya postur tubuh diantara keduanya sehingga terlihat kurang sempurna dimata saya. Meski begitu, keduanya sangat menikmati tarian mereka. Setiap gerakan tariannya, keduanya sangat lentur dan tidak ada yang keliahatan kaku.
Seseorang telah berdiri di depan panggung dengan sorotan kamera dengan kostum tradisional. Nampaknya ia berdiri diatas panggung untuk membuka acara sebagai tanda bahwa acara akan di mulai. Dengan semangat, ia pun menyapa pengunjung yang telah siap melahap dan mengunyah sajian-sajian yang akan diberikan. Kemudian nampak sekelomok anak-anak kecil itu telah bersiap-siap untuk tampil memperkenalkan dan seakan mengingatkan kita akan tradisi seni jawa barat.
Usai menyapa para pengunjung, kemudian pembawa acara memanggil para pemain beserta peran mereka. Tidak yang saya duga sebelumnya, bahwa yang akan tampil adalah sekelomopok penari kecil dengan sorotan kamera. Namun yang terlihat adalah orang-orang dewasa yang berkostum layaknya pelawak dalam sebuah teater seni. Si pembawa acara memperkenalkan mereka satu-persatu beserta peranan yang mereka ambil. Tak lama setelah itu terdengar musik cukup keras namun asyik, mereka pun berjoget dengan asyik pula. Nampaknya inilah pertunjukan utama dari pementasan ini.
Dugaan saya kali ini benar, pertunjukan di mulai, dengan salah satu aktor memasuki panggung. Ternyata, sebagai sajian pertama pertunjukan ini adalah drama teater. Kostum dan bahasa yang digunakan pun semuanya tradisional dan merupakan ciri khas sunda. Meskipun kostum dan bahasa yang digunakan adalah tradisional jawa barat, namun cerita yang diambil pada pertunjukan ini adalah cerita modern, tentang seorang kandidat calon ketua RT yang kalah dalam pemilu, walaupun ia telah mengorbankan hampir semua harta miliknya demi menjadi ketua RT. Tim suksesnya gagal mengantarkan majikannya ke kursi pemerintah tingkat RT karena kesalah-pahaman antara majikan dan tim suksesnya.
Setelah diperhatikan dalam setiap adegan, terlihat kurang cocok antara alur dan cerita yang disajikan. Karena keduanya berbeda konteks antara tradisional dan cerita yang berhubungan dengan politik praktis. Namun, yang lebih tahu maksud dan tujuannya adalah penulis skrip dan sutradara yang menyetir pertunjukan ini. Entah sebuah kritik sosial ataupun apa, karena  hanya sutradara lah yang mengetahui secara utuh maksud dan tujuan atas apa yang di pertunjukkan yang tidak sempat kami tanyakan.
Harapan saya muncul kembali setelah usai pertunjukan tadi, yakni melihat penuturan para gadis kecil yang akan memberi pesan tersirat melalui sebuah tarian tradisional kepada kita. Kali ini acara diistirahatkan sejenak untuk memberi nafas segar kepada pengunjung maupun crew. Saya pun meninggalkan ruangan sejenak untuk mencari angin di depan gedung.
Terasa terik matahari yang begitu panas siang itu, membuat muka orang-orang disekitar terlihat sedikit seram, termasuk saya sendiri. Sejenak mata ini mengelilingi sekitar untuk mencari sesuatu yang dapat menyegarkan fikiran dan suasana. Kaki pun melangkah menuju sebuah warung di depan stasuin televisi ini.
Saya memesan segelas jus alpukat yang menurut saya cocok untuk sejenak menunggu tarian para gadis kecil itu. Sementara, sebatang rokok telah menyelip diantara jari-jemari kananku. Tak lama, ibu warung mengantarkan segelas jus alpukat dan meletakannya di atas meja di sisi kiri saya.
Sementara fikiranku terus menelusuri akan pesan apa yang akan diberikan oleh para gadis kecil itu kepada pengunjung. Namun lamunan itu hilang ketika ponsel yang berada dalam saku kanan celana saya bergetar. Kulihat ada telfon masuk yang ternyata itu adalah teman sekelas yang memberi kabar untuk kembali ke kampus karena masih ada matakuliah lain pada hari itu.
Memang ada sedikit penyesalan yang tersirat karena belum sempat untuk menikmati sebuah sajian dari para gadis kecil yang telah melakukkan berbagai persiapan untuk tampil di depan kamera. Tak lama berselang, teman-temanku menghampiri untuk kembali ke kampus. Kami-pun meningalkan kawasan studio TVRI dengan hati sedikit menggerutu.

0 komentar: