Mengupas Pesan Dakwah Dalam Lagu Wali “Status Hamba”

Oleh: Hasanuddin

WALI – STATUS HAMBA
Cipt. Apoy
Arr. Wali

Ayo kita semua anak manusia
Yang tak luput dari dosa
Lelaki wanita yang tua yang muda
Semua pasti pernah salah
Tak ada satupun yang hidup sempurna
Karena status kita hamba
Yang Maha Sempurna ya Allah ta'ala
Karena status Allah Tuhan kita
Wahai Allah wahai Tuhanku ampuni semua dosa-dosaku
Dosa ibu dan bapakku dan dosa-dosa semua hamba-Mu
Wahai Allah wahai Tuhanku berikan kebaikan dunia-Mu
Kebaikan akhirat-Mu, jauhkanlah api neraka-Mu
Berbuatlah untuk duniamu kawan
Seakan hidup selamanya
Berbuatlah untuk akhiratmu teman
Seakan esok tiada
Tak ada satupun yang hidup sempurna
Karena status kita hamba
Yang Maha Sempurna ya Allah ta'ala
Karena status Allah Tuhan kita
Wahai Allah wahai Tuhanku ampuni semua dosa-dosaku
Dosa ibu dan bapakku dan dosa-dosa semua hamba-Mu
Wahai Allah wahai Tuhanku berikan kebaikan dunia-Mu
Kebaikan akhirat-Mu, jauhkanlah api neraka-Mu
Wahai Allah wahai Tuhanku ampuni semua dosa-dosaku
Dosa ibu dan bapakku dan dosa-dosa semua hamba-Mu
Wahai Allah wahai Tuhanku berikan kebaikan dunia-Mu
Kebaikan akhirat-Mu, jauhkanlah api neraka-Mu[1]
Mengapa Memilih Wali?
Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mari kita bahasa sedikit mengenai Wali band. Berbicara Wali band sebenarnya berbicara tentang sebuah icon band religi di Indonesia. Melalui lagu-lagunya, Wali band dikenal sebagai band religi oleh masyarakat Indonesia. Maka tidak salah banyak sinetron berlabel religi pula yang memakai lagu-lagunya sebagai soundtrack di antaranya Islam KTP (2010), Ustadz Fotocopy (2012) dan Anak-Anak Manusia (2013) yang ketiganya sama-sama tayang di SCTV. [2]Di samping melalui lagu-lagunya, secara personil Wali band juga memiliki background religi. Seluruh personil band ini adalah lulusan pondok pesantren dan sebagian berstatus sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. [3]
Selain Wali sebenarnya banyak penyanyi/grup lain yang sempat menjadi bahan pertimbangan. Bagi saya pribadi tidak sulit mencari lagu-lagu religi, karena saya sendiri suka sekali mendengarkan lagu-lagu islami. Dari semenjak SD saya sudah mengenal lagu-lagu religi milik Qasidah Modern Al-Manar Tasikmalaya,  lagu-lagu Nasyid; Raihan, The Fikr, Hijjaz, dan lantunan sholawat dari berbagai grup qasidah, hadrah dan marawis. Dari sisi nilai-nilai dakwah pun, semuanya jelas lebih unggul. Dengan banyaknya “referenshi” yang tersimpan dalam bank musik saya, maka tidak sulit mencarinya.
Namun demikian, pertimbangan lain mengapa memilih band Wali  adalah saya lebih tertarik kepada lirik-lirik yang dibawakan. Pengemasan lirik yang mudah dicerna ke dalam musik melayu membuat saya tertarik mengakajinya. Dan mungkin kita sama-sama setuju bahwa dengan lirik yang mudah dicerna itu sekaligus membuat Wali mudah dikenal --meskipun saya sendiri tidak terlalu menyukai band bergenre melayu--. Tentu saja itu semua tidak lepas dari peran serta para personil dalam meracik musik serta melalui tangan dingin Apoy yang mampu menciptakan lirik dan lagu yang ciamik. Dengan demikian, nilai-nilai dan pesan-pesan dakwah yang terkandung dalam lagu-lagu Wali band juga dapat diterima dengan baik di kalangan masyarakat. Maka, dengan pertimbangan-pertimbangan yang sudah disebutkan di atas, saya tidak perlu bingung memilih ketika saya ditugaskan untuk –katakanlah-- meresensi sebuah lagu religi.


Ada Apa Saja
Dalam Liriknya?
Jika kita kupas satu persatu, setidaknya ada tiga poin utama dalam lirik lagu ini. Saya mengkategorikannya sebagai pengingatan, nasihat dan doa. Tiga kategori utama ini terkait satu sama lain sehingga menjadi lagu yang syarat makna dakwah. Mari kita bahas satu persatu tiga poin tersebut.
Pertama, pengingatan. Poin ini terkandung dalam lirik awal dalam lagu ini yaitu “Ayo kita semua anak manusia yang tak luput dari dosa lelaki wanita yang tua yang muda semua pasti pernah salah”.
Tentu kita semua sangat paham betul dengan bagian ini. Al-insaanu makaanul-khothoi wan-nisyaan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Dalam lagu ini kita diajak untuk mengingat bahwa kita adalah manusia biasa yang sudah Allah ciptakan beserta “label” kesalahan dan tak luput dari dosa.  Maka dari itu, sudah sepatutnya kita harus senantiasa meminta petunjuk kepada Allah swt ketika secara sengaja atau tidak melakukan tindakan berdosa dan segera bertaubat.
Taubat secara leksikal bermakna menarik tangan dari perbuatan dosa dan kembali ke jalan hak. Dengan kata lain, kembali (ke jalan hak) dengan penyesalan atas perbuatan dosa.
Taubat dan keputusan serius manusia untuk meninggalkan perbuatan dosa merupakan gerakan menuju keselamatan dan hal ini merupakan sebuah kemenangan tersendiri bagi yang melakukannya. Kemenangan yang membuka gerbang-gerbang rahmat Ilahi bagi manusia. Seseorang yang telah sampai pada tingkatan ini (taubat) sesungguhnya telah mencapai kemenangan besar. Karena itu, ia harus berusaha lebih maksimal untuk meningkatkan motivasi perlawanannya melawan dosa dan senantiasa menjaga kondisi perlawanan seperti ini dalam dirinya.
Poin yang sangat penting pada tingkatan dan jalan ini adalah memohon pertolongan kepada kemurahan dan perhatian Tuhan yang ditujukan kepada orang-orang yang bertaubat. Karena taubat sejati akan mengeliminir segala kemurkaan atas dosa-dosa dan hukuman-hukuman ukhrawi serta pengaruh-pengaruh negatif dosa-dosa di hadapan Allah Swt, sebagaimana Allah Swt berfirman, “ Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ” (Qs. Al-Zumar [39]:53)
Apa yang dapat disimpulkan dari ayat ini dan ayat-ayat serta riwayat-riwayat lainnya adalah bahwa apabila manusia menyesali perbuatan dosa yang dilakukannya dan bertaubat maka niscaya Allah Swt akan menerima taubatnya dan mengampuni seluruh dosa-dosanya. Sedemikian sehingga seolah-olah orang tersebut sama sekali tidak melakukan sebuah dosa. Sesuai dengan penjelasan ini, terang bahwa seluruh ibadah dan perbuatan-perbuatan baik yang lalu dan masa datang akan diterima oleh Allah Swt. Oleh itu, jangan sekali-kali kita berputus asa dari rahmat Ilahi. Karena meski dosa kita sangat besar maka rahmat Allah Swt lebih luas dari semua itu.[4]
Kedua, nasihat. Poin ini tertera dalam lirik selanjutnya, yaitu “Berbuatlah untuk duniamu, kawan, seakan hidup selamanya. Berbuatlah untuk akhiratmu teman seakan esok tiada.
Yang menarik dari Wali band yang saya amati adalah mereka mampu mengemas hadits atau ucapan sahabat menjadi sebuah lagu. Termasuk pada bagian ini. Jika kita perhatikan dengan seksasma, kalimat dalam bait ini mirip dengan kalimat yang sering kita dengar di ceramah atau seminar agama yang berbunyi "Bekerjalah kamu untuk duniamu seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah kamu untuk akhiratmu seakan kamu mati esok hari". Saking populernya kalimat ini, banyak yang beranggapan bahwa kalimat ini adalah ucapan Rasulullah (hadits). Namun sebenarnya kalimat tersebut merupakan ucapan sahabat Abdullah bin Umar bin Al Khathab. (Ibnu Asy Syajari, Al Amali, 1/386. Mawqi’ Al Warraq).[5]
Meskipun kalimat ini bukan hadits nabi, sekadar ucapan sahabat nabi saja, kalmia ini adalah ucapan yang baik yakni mengajarkan keseriusan dalam ibadah untuk akhirat dan bekerja untuk dunia. Sebab jika keadaannya dibalik, jika manusia beribadah merasa hidup selamanya, dia akan meremehkan ibadah tersebut sebab dia boleh melaksanakannya di lain waktu. Juga jika bekerja untuk dunia justru merasa besok akan mati, maka dia tidak akan semangat kerja sebab dia merasa apa yang dikerjakannya adalah percuma saja, kerana besok sudah mati.
Jadi, inti kalimat ini mengajarkan profesionalisme dalam bekerja dan ibadah. Namun demikian, sikap berlebihan dalam kedua hal ini juga bukan sikap yang dibenarkan dalam Islam. Sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersaba: “Apa pun yang sedikit tapi mencukupi, adalah lebih baik dibanding yang banyak tetapi melalaikan.”[6]
            Dan poin yang ketiga adalah doa. Bait-bait doa sangat kental terasa sekali pada bait lirik “Wahai Allah wahai Tuhanku ampuni semua dosa-dosaku, dosa ibu dan bapakku dan dosa-dosa semua hamba-Mu. Wahai Allah wahai Tuhanku berikan kebaikan dunia-Mu, kebaikan akhirat-Mu, jauhkanlah api neraka-Mu.”
Bait lirik ini secara jelas mengajak kita untuk memohon ampunan kepada Allah atas dosa-dosa kita dan kedua orangtua kita. Bait ini mengingatkan kita pada sebuah doa untuk kedua orangtua kita yang sangat kita kenal, yaitu “rabbighfirlii wa liwaa lidayaa warhamhumaa kamaa rabbayaanii shigaara. Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.”
Doa indah kepada kedua orang tua kita merupakan salah satu bukti dan cerminan keshalehan kita sebagai seorang anak. Anak shaleh adalah anak yang selalu mendoakan kedua orang tuanya untuk kebaikan hidup mereka baik di dunia maupun akhirat.
Doa seorang anak kepada orang tuanya termasuk ke dalam investasi amal pahala yang ditinggalkan oleh seorang manusia yang telah meninggal dunia, dimana pahalanya akan terus mengalir dan tidak terputus. Inilah salah satu keuntungan memiliki anak yang shaleh. Anak tersebut akan terus mendoakan orang tuanya, meskipun orang tuanya sudah tiada.
Doa indah kepada kedua orang tua yang lahir dari anak-anak kita merupakan buah dari keberhasilan kita dalam mendidik anak yang shaleh. Semakin shaleh anak yang kita didik, maka akan semakin indah dan baik lah doa-doa anak-anak pada kita. Gagal mendidik anak artinya kita gagal memiliki investasi amal pahala yang mengalir saat kita telah meninggal kan alam dunia ini.
Anak shaleh adalah anaknya yang tak pernah kasar pada orang tuanya, tidak pernah berkata ah dan tidak menolak saat disuruh dalam melakukan kebaikan. Anak yang shaleh akan mendoakan banyak hal-hal indah pada kita sebagai orang tua. Beberapa doa indah kepada kedua orang tua yang dilantunkan oleh para anak shaleh diantaranya adalah:
Pertama,  doa agar diselamatkan dari azab kubur maupun azab siksa api neraka. Inilah doa anak shaleh yang akan menjadi penerang para orang tua yang telah meninggalkan alam dunia fana. Terhindar dari azab dan siksaan Allah yang Maha dahsyat merupakan hal yang harus didoakan oleh seorang anak shaleh terhadap para orang tuanya.
Kedua, doa agar dimasukkan ke dalam syurga dan berkumpul kembali besama keluarganya yang di dunia. Anak shaleh akan mendoakan orang tuanya agar dimasukkan ke dalam syurga, lalu berkumpul kembali dengan keluarga tercintanya di muka bumi ini. [7]
Secara keseluruhan, muatan dakwah yang terkandung dalam lirik lagu “Status Hamba” ini adalah ajakan untuk mengingat diri kita sendiri yang tidak pernah lepas dari salah dan dosa, mengajak kita untuk berbuat baik selagi kita masih diberi nafas oleh Allah swt, serta senantiasa mendoakan kedua orangtua kita baik yang sudah meninggal atau pun yang masih hidup karena salah satu nilai keshalehan anak terhadap orangtuanya adalah dilihat dari seberapa banyak ia mendoakan orangtuanya.
Demikianlah nilai-nilai dakwah yang bisa saya kupas dari lagu milik Wali band ini. Mudah-mudahan bermanfaat. Bukan hanya bersifat tugas mata kuliah saja, tetapi semoga bisa dimanfaatkan lebih jauh lagi sebagai bentuk dakwah kitabah. Aamiin. Wallahu a’lam bisshawab.



[1] kapanlagi.com
[2]id.wikipedia.org
[3] id.wikipedia.org
[4] islamquest.net
[5] Ada juga yang menyebut sebagai ucapan Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash. (Ibnu Abdi Rabbih, Al ‘Aqdul Farid, 2/469. Mawqi’ Al Warraq)
[6] HR. Ahmad No. 20728. Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/82, No. 7. Ath Thabarani, Al Mu’jam Al Awsath, No. 2640 dan 3001. Ath Thabari, Tahdzibul Atsar, No. 2496. Al Baihaqi, Syu’abul Iman, No. 9986. Musnad Asy Syihab Al Qudha’i No. 1165. Musnad Ath Thayalisi, No. 1061. Al Hakim, Al Mustadrak ‘alash Shahihan, No. 3620. Katanya: shahih, dan Bukhari-Muslim tidak mengeluarkannya. Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Shahih-nya No. 3329
[7] ceritakebesaranislam.blogspot.com












0 komentar: