Menonton Longser

Oleh Siti Tarwiah
Longser ini sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat sunda, karena ini adalah jenis teater tradisional khas daerah Sunda. Sebagai teater rakyat, Longser dipentaskan di tengah-tengah para penonton. Cerita dari Longser ini pun biasanya dibawakan penuh dengan banyolan-banyolan khas sunda dan alur ceritanya diambil dari kehidupan sehari-hari. Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Acara Longser kali ini terdiri dari sepuluh orang pemain, dua orang penari jaipong, satu orang sinden, dan lima orang pengiring musik. Sebelum acaranya di mulai, para crew mempersiapkan segala kelengkapan pada tugasnya masing-masing, seperti mengatur tempat duduk untuk penonton, mengatur sound system, dan para pemain, penari jaipong, sinden melakukan gladi resik untuk mematangkan aksinya di panggung.

Kemudian ketika acara Longser di mulai, longser ini di buka dengan sebuah tarian jaipong, lalu para pemain menari bersama-sama, dan setelah itu baru masuk ke isi ceritanya.
Pada acara Longser yang disiarkan oleh TVRI berjudul “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”, menceritakan “Seorang laki-laki bernama Aep yang mencalonkan dirinya sebagai kepala desa. Namun dalam pemilihan ini Aep kalah dalam pencalonannya sebagai kepala desa karena minimnya pendukung. Atas kekalahan ini Aep tidak terima dan akhirnya tim suksesnya memberikan solusi untuk mengajukan banding kepada MK (Mahkamah Konstitusi). Tetapi MK menyuruh Aep menyiapkan uang sebesar 3 miliyar untuk mengajukan banding tersebut.
Aep menjadi kebingungan karena tidak mempunyai uang sebesar itu. Akhirnya tim suksesnya memberinya usul untuk meminjam uang kepada pengusaha kaya yaitu bos Ogo. Bos Ogo pun menyetujuinya, tetapi dengan syarat Aep harus menyerahkan proyeknya kepada bos Ogo. Kemudian kedua tim suksesnya membawa uang itu untuk diberikan kepada MK. Namun akibat adanya miss communication antara Aep dengan tim suksesnya, membuat tim suksesnya salah memberikan uang hasil pinjaman itu kepada MK. Yang dikira tim suksesnya MK itu adalah Mang Kardun, padahal yang seharusnya MK itu adalah Mahkamah Konstitusi. Akibat dari kesalahan tersebut Aep tidak bisa melanjutkan lagi sebagai calon kepala desa dan uangnya diminta kembali oleh bos Ogo”.
Dalam cerita tersebut saya menganalisa bahwa cerita ini bisa menghibur penonton karena lawakan-lawakan dari para pemain dan interaksi dengan penontonnya terjalin. Tetapi ending atau akhir dari cerita tersebut kurang dipahami dan tidak jelas, sehingga penonton tidak tahu akhir dari ceritanya dan pesan dari cerita itu tidak bisa diketahui. Menurut saya, seharusnya ending dari cerita tersebut harus jelas pesan-pesannya harus bisa tersampaikan kepada penonton.

0 komentar: