Nonton Shooting Longser di TVRI Jawa Barat

Oleh Rozana Binti Malaysia
Sejarah TVRI Jawa Barat
TVRI Jawa Barat merupakan stasiun televisi daerah yang didirikan oleh Televisi Republik Indonesia untuk wilayah Provinsi Jawa Barat. TVRI Jawa barat didirikan pada tanggal 11 Maret 1987 dan diresmikan oleh Walikota Bandung saat itu H. Ateng Wahyudi dengan nama TVRI Bandung. TVRI Bandung juga saat itu mulai mengudara selama 60 menit dengan program acara berita daerah khas TVRI.
Pada tanggal 21 Mei 1991, Tepatnya saat RCTI mengudara di Bandung, siaran TVRI Bandung juga disiarkan melalui RCTI Bandung. Dengan program berita lokal TVRI Bandung. Hingga RCTI mengudara secara nasional pada tahun 1993, TVRI Bandung masih tetap ada pada siaran RCTI di daerah Jawa Barat.
Saat terjadi krisis moneter tahun 1998 , TVRI Bandung terpaksa berhenti siaran karena terkendala dana. Hal ini pun terus terjadi hingga pertengahan tahun 2000, dimana saat itu TVRI Bandung kembali beroperasi secara normal. Namun, kejadian itu kembali terulang dimana siaran TVRI Nasional berhenti mengudara. Hal ini menimbulkan TVRI Bandung kembali berhenti beroperasi hingga Desember 2001

Rozana
Pada tahun 2003, TVRI Bandung mulai beroperasi secara normal. Bahkan, nama TVRI Bandung mulai diganti dengan nama TVRI Jawa Barat. Penggantian ini dimaksudkan agar TVRI Bandung dapat diterima secara luas oleh Masyarakat Sunda, tanpa adanya pemusatan acara TVRI. Ini disebabkan karena TVRI Bandung dianggap tidak luas dan hanya dikenal di wilayah Bandung saja.
Akhirnya, pada April 2013, TVRI Bandung mulai menyediakan layanan online streaming. Dan saat ini, kantor TVRI beralamat di Jalan Raya Cibaduyut No.269 Kota Bandung 40236. 

Berkunjung ke TVRI Jawa Barat
Berangkat dari depan kampus UIN Sunan Gunung Djati bersama-sama anak kelas KPI C seramai 14 orang dengan menaiki angkot ke TVRI. Perjalanan ke TVRI yang terletak di Cibaduyut memakan waktu selama lebih kurang sejam setengah karena jalannya yang macet.
Jam 12.40 siang tiba di Stasiun TVRI. Kami memasuki ruang public TVRI, dan kemudian dijemput masuk ke ruangan teater. Keadaan panas di luar akhirnya terobat dengan kedinginan penghawa dingin (air-conditioner) yang terdapat di dalam ruangan tersebut. Saat kami masuk, pentas telah disiapkan dengan kemas, rapih dan indah. Kelihatan dua orang penari perempuan, mungkin anak SMP dan anak SMA, sedang berlatih menari di atas pentas. Ketika kami tiba di ruangan tersebut juga, sudah ada teman-teman lain yang berada di sana. Kami sempat berfoto dengan anak-anak penari yang cilik, dan juga foto bersama teman.
Jam 1.30 Sore, kami diarahkan duduk di atas karpet sebagai pemirsa, dan anak-anak kecil yang datang dari TK yang berdekatan juga disuruh duduk, dan mereka duduknya paling hadapan. Sebelum rekaman dimulakan, para pemeran scenario dan penari melakukan rehearsal terakhir. Saya sempat menangkap foto mereka. Apabila taping dimulai, kami semua diminta untuk diam, tidak bersuara, dan bertepuk tangan mengikut rentak musik atau ketawa mengikut kesesuaian cerita yang diperankan oleh para pemeran di atas pentas.
Mengikut perhitungan saya, taping yang dilakukan mungkin dalam anggaran 98% adalah bahasa Sunda. Sejujurnya, tidak semua perbicaraan para pemeran saya mengerti dan paham. Saya Cuma memahami sedikit dari banyak perbicaraan mereka. Mereka tertawa, kadang saya ikut ketawa jika saya paham, dan kadang saya Cuma diam karena tidak mengerti. Apa pun, bagi saya, para pemeran sangat menghiburkan. Walaupun saya kurang memahami topik atau judul yang mereka coba bawakan, namun mungkin karena mereka bijak menggunakan bahasa tubuh, akhirnya sedikit-sedikit saya boleh memahaminya.
Jam 2.45 sore. Taping akhirnya berakhir dan kami diminta untuk beristirahat sebentar. Saya bersama teman-teman mengambil kesempatan itu dengan menangkap foto bagi mengabdikan memori berada di stasiun TVRI Jabar. Memandangkan anak-anak semester 5 KPI C masih ada kuliah jam 4 sore, kami memohon izin dari bapak dosen, Pak Dhipa, untuk berdar pulang ke kampus. Setelah puas berfoto, lebih kurang jam 3:15 sore, kami berangkat pulang dari Stasiun TVRI ke kampus UIN dengan menaiki angkot yang sama.
Menonton Shooting Longser
Pertamanya, saya begitu teruja sekali ketika melangkahkan kaki ke Stasiun TVRI Jabar, karena di Malaysia saja, saya cuma pernah sekali saja datang ke Stasiun TV. Ketika memasuki ruangan teater atau ruangan pentas untuk pertunjukan, saya berasa kagum dengan pementasan set yang disiapkan dan berasa tidak sabar untuk melihat pertunjukkan yang bakal diadakan.
Ketika di TVRI, kami, (saya dan anak kelas), sempat menyaksikan dua persembahan atau dua pertunjukan, yaitu tarian dan scenario, yang akhirnya kedua persembahan ini disatukan dalam satu rekaman pertunjukkan. Bagi saya, secara peribadi, saya juga meminati bidang tarian, dan melihat kepada talent atau bakat yang disampaikan oleh dua penari muda pada ketika itu, saya berasa begitu kagum, teruja dan terhibur dengan liuk lentuk dan gemalai badan mereka. Bagi saya, tarian yang mereka persembahkan sangat berhasil karena mereka sudah cukup arif dalam bidang tersebut. Cuma saya tidak tahu jenis tarian yang dipertunjukkan, mungkin tarian Sunda.
Jika sememangnya tarian yang dipertunjukkan itu tarian tradisional Sunda, bagi saya itu adalah satu keunikan dan kelebihan bagi TVRI karena berhasil memperkenalkan, menjaga, malah melestarikan budaya Sunda melalui media malah bisa sampai ke peringkat global. Melalui media tayang seperti ini, bangsa Sunda dapat dikenali ramai, dapat dijaga hasil budaya peninggalan nenek moyang, warisan turun temurun bangsa, dan pasti ramai orang Sunda yang akan bangga dan menghargai seni dan budaya mereka.
Dan seandainya tarian itu bukanlah bercirikan khas Sunda, bagi saya ianya tetap bagus karena dapat mempertunjukkan bakat terpendam, bakat yang ada di kedua penari tersebut melalui media bahwa itulah hasil kerja keras mereka selama ini, dan akhirnya mereka berhasil menjadi penari yang berbakat besar.
Seterusnya pertunjukkan dari para pemeran yang diawali dengan tarian ala-ala senaman. Pertunjukkan ini, yang saya juga tidak tau judulnya apa, secara umum bagi saya ianya menghiburkan, dan saya tidak mengatakan “sangat menghiburkan” karena tentulah saya berbohong jika saya mengatakan sebegitu, karena saya sememangnya kurang mengerti apa yang dikatakan oleh para pemeran.
Bagi saya, kekurangan di setiap apa yang kita lakukan pastinya ada. Cuma terkadang ianya tertutup atau tidak disedari oleh orang lain. Dalam pertunjukkan scenario tersebut, sekiranya saya meletakkan diri saya sebagai seorang Sunda yang lagi stress, punya banyak masalah, galau dan sebagainya, apabila menyaksikan pertunjukkan ini, pasti akan hilang stress, galau dan beban masalah, mungkin tidak semua, namun sekurang-kurangnya dapat meredakan sebentar atau sedikit perasaan yang galau ketika itu. Kemudian, apabila saya memposisikan diri saya sebagai seorang yang serius, fokus hanya kepada perkara penting saja, tentunya untuk menyaksikan siaran tv seperti itu, seperti tidak punya waktu dan berasa percuma saja, karena masih ada banyak siaran tv lain lagi yang boleh memotivasikan kita, ketimbang scenario yang penuh dengan jenaka dan humoris.
Akhirnya, ketika saya menjadi diri sendiri, saya tidak punya masalah yang banyak berkaitan dengan pertunjukkan tersebut. Cuma jika boleh, saya cuma ingin penampilan para actor atau pemeran itu tidak berlebihan. Dari segi wardrobe, pakaian dan stail, bagi saya bagus, tidak terlalu kuno atau terlalu berlebihan. Dari segi teks, atau dialog sesama mereka, bagi saya cukup bagus, karena mereka bisa menarik hati para pemirsa dan membuat pemirsa ketawa dan terhibur. Mungkin Cuma bagi saya yang kurang fasih berbahasa Sunda, untuk memahami jalan cerita yang disampaikan oleh para aktor menjadi masalah buat saya meski saya turut tertawa dengan humor-humor yang mereka sampaikan, tetap saja jalan cerita yang sebenarnya saya kurang mengerti. Hal-hal lain pula adalah bagus, dan jika boleh, setting latar pentas diceriakan lagi dengan bunga atau lampu yang menarik, mengikut kesesuaian tema pertunjukkan.
Namun apa yang menjadi suatu kekurangan pada saya, bukanlah di pertunjukkannya, jika boleh, saya ingin mengomentari sedikit bagian, mungkin bagian pengelolan atau pengurusan. Apa yang saya dapat lihat dari pengurusan di sana, para aktor dan pengurus cukup santai sekali dalam pertunjukkan tersebut. Satu contoh, ketika pertunjukkan mau dimulai, dua pemeran belum ada, yang dimaklumkan mereka ke bilik air, sedang pada ketika itu, hitungan untuk memulai rekaman telah dimulai. Mungkin itu adalah kali pertama terjadi, namun bagi saya, dalam hal-hal yang resmi atau hal yang serius, para aktor harus berdisiplin, dan pengurus atau pengelola haruslah tegas agar ruangan pertunjukkan dapat dikondisikan dengan baik, para pemirsa tidak ternantii-nanti dan show berjalan dengan lancar.
Secara kesimpulannya, tidak banyak yang saya mampu komentari karena bagi saya pertunjukkan pada hari kunjungan adalah memuaskan hati saya, dan ingin rasanya untuk menjadi pemirsa sekali lagi di sana. Pertunjukkan yang diadakan di TVRI Jabar cukup bagus, karena ianya memusatkan dan mengangkat martabat Bangsa Sunda di media dan inshaAllah suatu hari nanti di peringkat global. Harapan dari saya moga TVRI Jabar dapat bertahan lebih lama, dan dapat memberikan santapan pertunjukkan yang lebih menarik, dekat di jiwa pemirsa dan lebih menonjol dari Stasiun TV yang lain. Moga sukses TVRI Jabar !

0 komentar: