Pengalaman Pertama Nonton Longser

Oleh Nizar Fahmi
Longser adalah sebuah pertunjukan, hanya itu yang saya tahu. Longser sebuah pertunjukan tradisional yang lahir dan berkembang di bumi Priangan. Pertunjukan ini ditampilkan dengan konsep tradisional juga menggunakan bahasa sunda. Longser yang saya tonton di stasiun TVRI Jawa Barat merupakan pertunjukan Longser pertama yang saya tonton.
Longser yang dipertunjukkan di stasiun TVRI beberapa waktu lalu itu dikemas seperti seharusnya. Tidak berlebihan apabila saya menilai longer tersebut bagus, sebab ini longser pertama yang saya tonton, dan sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang longser.
Sebelum memulai produksi siaran Longser, beberapa kru dari tim produksi Longser tidak saya lihat sama sekali, kecuali sosok bapak-bapak yang diperkenalkan oleh Dhipa Galuh Purba. Saya pun lupa nama sosok itu siapa, tapi yang jelas, saya tidak melihat keberadaan kru lain di ruang produksi selain sosok itu. Bahkan awalnya saya mengira prosukdi siaran Longser itu dikerjakan oleh satu orang,  tapi ternyata perkiraan saya keliru.
Duduk cukup lama menunggu, saya hampir merasa bosan dengan persiapan pertunjukan Longser. Saya menunggu, dan kemudian beberapa saat sebelum pertunjukan dimulai para crew sudah tampak bersiap-siap. Jika tidak salah jumlah mereka adalah empat orang, lima dengan sosok bapak-bapak itu. Tiga orang cameramen, satu orang make up artis, dan terakhir adalah sosok bapak-bapak yang saya lupakan namanya itu.
Mereka tidak lagi muda, maksud saya mereka berbeda dengan yang saya lihat di stasiun lain seperti Trans TV, Trans 7 dan beberapa stasiun lain yang banyak mempekerjakan anak-anak muda. Di sini sepertinya pihak manajemen lebih memilih “orang-orang jadi”, atau mungkin itu juga bagian dari ideologi stasiun TVRI sendiri, saya tidak tahu.

Mereka berada di usia antara 35-40 tahun. Sebenarnya usia yang masih muda, tetapi pendapat saya berbeda, saya mengatakan mereka tua. Mungkin karena sebelumnya saya melihat orang-orang muda bekerja di Trans TV dan Trans 7.
Kemudian seorang wanita berambut cukup panjang meminta kami duduk di karpet yang sudah disediakan. Karpet berwarna hijau. Karpet yang tidak begitu lebar, bahkan untuk ukuran selametan sekalipun. Karpet itu diduduki oleh cukup banyak orang. Semuanya berdesak-desakan. Mahasiswa KPI, siswa Taman Kanak-Kanak beserta orang tua mereka, dan orang yang tidak sulit saya kenali. Semantara banyak penonton duduk tak beraturan di sana sini. Untuk posisi duduk ini, sepertinya pihak TVRI tidak memperhitungkannya dengan matang.
Saya melihat beberapa penonton duduk seenaknya. Di antara mereka ada yang duduk di kursi di belakang, di stage lain, dan di beberapa tempat lainnya. Saya risih dengan keadaan ini. Saya menilai hal ini tidak cukup baik, karena mencerminkan kurang sigapnya pihak TVRI menerima penonton dalam jumlah cukup banyak.
Berikutnya pertunjukan Longser dipersiapkan. Beberapa talent naik ke panggung. Beberapa laki-laki dan beberapa perempuan. Kira-kira perempuannya hanya tiga, jika saya tidak salah ingat. Talent-talent ini seperti tidak di-make over oleh petugasnya. Di wajah mereka tidak terlihat adanya bedak, atau goresan apapun. Kecuali seorang wanita bertubuh gempal dan seorang lagi yang bertubuh kurus.
 Satu memerankan istri calon Kades, dan satu lagi nenek. Keduanya saya lihat cukup medok di-make over. Tetapi lain-lainnya seperti tidak sama sekali. Kemudian wanita berambut cukup panjang tadi memanggil talent yang belum di-make over agar masuk ke ruang make up. Dugaan saya mereka belum di-make over. Benar, ternyata mereka belum. Selanjutnya satu persatu dari mereka berjalan ke atas panggung, dan wajah mereka sama. Seperti tidak di-make over sama sekali. Saya pikir tukang make up wajah artis di sini tidak ahli dalam pekerjaannya. Terbukti dari wajah para pemain Longser itu sendiri. wajah mereka sama seperti sebelum masuk ke ruang make up.
Para pemain melakukan percobaan, mereka seperti tidak serius. Saya tidak memedulikan hal ini. Bagi saya, mereka boleh tidak serius asalkan pertunjukan bisa berjalan sesuai harapan. Cukup lama mereka melakukan persiapan, mungkin hampir satu jam. Saya menikmati ini. Bagi saya melihat mereka berlatih sudah lebih dari cukup dibanding mendengar instruksi-instruksi dari wanita berambut cukup panjang yang tak saya ketahui namanya.
Kemudian pemain-pemain music mulai melantunkan nyanyian berbahasa Sunda. Mereka sedang check sound rupanya. Beberapa bait lagu mereka lantunkan, terutama lagu pembuka Longser. Mereka terdiri atas seorang perempuan dan empat orang laki-laki.
Pertunjukan dimulai. Seorang lelaki memakai pangsi berwarna hijau lengkap dengan iket sunda berjalan di atas panggung. Rupanya ia pembuka Longser. Saya tidak mengerti hal ini, tetapi terdapat sedikit benang merah antara Longser dan Opera Van Java, yaitu sama-sama dibuka oleh satu orang. Setelah dibuka dan pembawa acara menyebutkan judulnya, Longser dilanjutkan dengan tarian Jaipong. Dua orang anak perempuan menari berlanggak-lenggok di atas panggung. Tinggi masing-masing mereka berbeda, satu cukup tinggi sedangkan satunya bertubuh pendek. Kemudian saya tahu mereka adalah siswa Sekolah Dasar dan Siswa SMP.
Pertunjukan Longser dimulai. Judulnya adalah ”Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”. Judul yang pasaran. Pada awalnya pertunjukan berjalan menyenangkan, tapi lambat laun menjadi membosankan. Pemeran bernama Aep membuat pertunjukan Longser menjadi menyenangkan. Ia dengan santai, menampilkan mimik muka yang konyol, serta gaya bicaranya yang benar-benar lucu. Saya menikmati pertunjukan Longser ini selama Aep masih ada di panggung. Kehebatannya ia bisa menarik perhatian penonton agar tertuju padanya. Mungkin hanya pemeran yang berambut cepak saja yang mampu mengimbangi kemampuan Aep di scene pertama ini, yang lainnya tidak.
Saya rasa setiap pemeran Longser ini memiliki kemampuan yang terlampau jauh. Dan yang saya nilai baik penampilannya hanya Aep, lelaki yang memerankan peran sebagai calon Kades. Perform-nya bagus, ekspresi wajah yang ditampilkannya lebih dari cukup untuk membuat saya dan orang lain tertawa-tawa terpingkal-pingkal. Akan tetapi pemeran lainnya tidak mampu mengimbangi penampilan lelaki bertubuh jangkung itu. Mungkin, mungkin hanya sosok Nenek, istri mang Kardun saja yang hampir mengimbangi kemampuan Aep, selebihnya tidak ada. Hal ini menjadikan scene kedua terasa garing. Tidak ada humor segar yang dibawakan dengan apik. Akibatnya penonton merasa jenuh dan tidak tertarik untuk menonton. Sungguh miris bila sebuah pertunjukan mengandalkan nyawa pertunjukannya pada satu orang.
Alur cerita Longser ini terlalu tiba-tiba. Mengapa demikian? Karena sosok mang Kardun yang tiba-tiba muncul di scene terakhir. Sebelumnya ia hanya diperkenalkan sebagai pembawa acara. Lalu ia muncul kembali di scene terakhir. Hal ini membuat saya dan beberapa penonton kebingungan dengan alur cerita Longser berjudul “Sudah Jatuh Tertimpa Tangga”. Sudah begitu, pertunjukan Longser ini garing sekali. Humornya tidak kentara.
Mungkin tidak ada lagi yang bisa saya komentari dari pertunjukan Longser ini. Penutupan Longser tidak cukup menarik bagi saya. Penutupan dan pembukaan Longser, keduanya dibuat dalam konsep yang sama, dan jadinya membosankan. Tidak ada lagi tinta yang saya akan saya goreskan untuk mengkritisi Longser ini. Saya hanya orang awam yang menonton Longser.

0 komentar: