Sajadah Panjang Milik Bimbo

Oleh Ratu Tresna Ning Gusti
--
Ada sajadah panjang terbentang
dari kaki buaian sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati ada sajadah panjang terbentang
hamba tunduk dan sujud di atas sajadah yang panjang ini diselingi sekedar interupsi Mencari rezeki, mencari ilmu, mengukur jalanan seharian begitu terdengar suara adzan
kembali tersungkur hamba ada sajadah panjang terbentang hamba tunduk dan rukuk hamba sujud tak lepas kening hamba
mengingat Dikau sepenuhnya
--
Lirik lagu adalah puisi yang dinyanyikan. Begitulah kiranya jika kita mencermati lebih dalam lirik lagu Sajadah Panjang punya Bimbo. Lagu yang diambil dari puisi Taufiq Ismail ini rasanya tak pernah beranjak tua dan tetap nyaman di telinga. Jauh dari pamor lagu sekarang yang acapkali naik dengan cepat, namun turun dengan cepat pula.
         Bimbo tak pernah menggembar-gemborkan dirinya (Acil, Sam, dkk) sebagai orang yang agamis. Pun tak mengumumkan bahwa Bimbo adalah grup yang dilandaskan tegas pada agama. Tapi kita tentu tahu, Bimbo banyak menyuarakan Islam yang kita cintai, yang memperlihatkan ketenangan, kedekatan dan kelembutan. Bimbo menyuarakan Islam sebagaimana yang kita cita-citakan.
         Dari sekian lagu Bimbo yang saya kenal, bagi saya, lagu Sajadah Panjang terlalu menarik untuk tak diindahkan. Karena diambil dari puisi penyair kawakan, penempatan kata dan diksinya, tentu tak disimpan sembarangan. Kedua hal ini menyebabkan rima yang cantik dan komposisi pengulangan yang tak membikin jenuh. Di samping itu, yang paling penting dari semuanya, Sajadah Panjang Bimbo memiliki makna yang dalam, tidak terikat teks, alias kontekstual.
         Menilik makna lebih jauh, Sajadah Panjang mengisahkan perjalanan hidup seorang hamba yang menjadikan hidup sebagai sarana ibadah. Hamba dalam lagu ciptaan … itu tahu benar, awal hidupnya ada pada buaian dan berakhir pada kuburan. Kuburan sebagai perlambang mati, buaian sebagai perlambang awal kehidupan.
Hamba ini, kemudian diceritakan sebagai manusia yang awas dan sadar, bahwa segala sesuatu yang ada di dunia hanyalah interupsi ibadahnya pada Allah. Bahkan pencariannya akan ilmu dan rejeki, hanyalah jeda yang ia lakukan dalam ibadah, memuja Tuhan yang menciptakan.
Suara adzan, sebagai panggilan shalat, dijadikannya penanda kembali pada peraduan ibadah yang seolah tak berkesudahan. Hamba dalam Sajadah Panjang kemudian tersungkur, menandakan bahwa manusia adalah mahluk lemah yang papa tanpa Tuhannya. Khusyuk, kemudian menjadi hal yang terakhir Bimbo sisipkan di Sajadah Panjang. Bahwa dalam ibadah, manusia sudah semestinya tak menduakan pikiran. Segala yang ada pada manusia yang sedang beribadah, harus terpusat dan terfokus pada Tuhan sepenuhnya.


0 komentar: