Sepotong Kayu

Vocal” Ust Jefri Al Buchori
Karya : Wafiq Azizah

Sepohon kayu daunnya rimbun Lebat bunganya serta buahnya Walaupun hidup Seribu tahun Kalau tak sembahyang apa gunanya Kami bekerja sehari-hari Untuk belanja rumah sendiri Walaupun hidup seribu tahun Kalau tak sembahyang apa gunanya Kami sembahyang fardhu sembahyang Sunnah yang ada bukan sembarang Supaya Allah menjadi sayang Kami bekerja hatilah riang Kami sembahyang lima lah waktu Siang dan malam sudahlah tentu Hidup dikubur yatim iatu Tinggallah seorang dipukul dipalu Dipukul dipalu sehari-hari Barulah ia sadarkan diri Hidup didunia tiada berarti Akhirat di sana sangatlah rugi

Makna dari lagu sepohon kayu diatas yaitu menceritakan kita sebagai muslimin agar taat kepada Allah, seperti yang terdapat pada bait yangg ada di lagu buat apa kita hidup sampai seribu tahun tapi kita meniggalkan shalat, maka sia-sialah hidup kita.***( Marina Djunjunan)
=====================

Integrasi dakwah dan seni hiburan dengan memanfaatkan kecanggihan media. Adalah sebuah langkah strategis dakwah yang efektif dalam konteks kekinian. Metode demikian, telah diawali oleh mubalig-mubaligh nusantara pada zaman Wali Songo. Hal ini berkaitan dengan gerakan islamisasi dan penyebaran Islam yang begitu cepat serta mudah diterima di kalangan masyarakat. Sampai akhirnya, para wali dapat meraih dan merasakan kesuksesan. Selain itu dapat  mengintegrasikan misi dakwah dengan melalui seni wayang kulit yang tempo dahulu. Yng menjadi pusat hiburan masyarakat Jawa.
Musik adalah bagian dari seni hiburan yang berpangur terhadap masyarakat. Oleh karenanya, Integrasi dakwah dengan musik pun dapat dipakai sebagai proses dakwah yang bersifat ringan. Seperti halnya yang terdapat pada lirik lagu yang berjudul “sepohon kayu” yang dipopulerkan pertama kali oleh Wafiq Azizah, kemudian di aransemen ulang dan dipopulerkan kembali oleh alm. Ust Jefri Al Buchori.
Lirik lagu ini berisi tentang pepatah yang mengibaratkan sepohon kayu. Kayu yang sehat dan bagus itu tergantung dan terlihat dari daun dan buah yang dihasilkan dari pohon tersebut. Jika daun dan buah itu lebat menandakan bahwa pohon tersebut bagus.
Filosofi sepohon kayu ini adalah seperti mukmin yang ada dimuka bumi ini. Ketika seorang mukmin sedang mencapai kesuksesan dari kerja kerasnya. Memiliki apa yang ia mau, tidak kurang dari satu apa pun. Namun jika tidak diiringidengan ibadah kepada Allah SWT. Menjadi hal yang tak berguna dan sia-sia. Karna kebahagiaan didunia sifatnya hanya sementara.
Ibadah pun tak sembarang ibadah. Sembayang fardhu dan sunnah pun dijalani dengan senang hati tanpa ada keterpaksaan supaya Allah menjadi sayang. Karna kelak nanti ketika kita telah meninggal dan hidup diakhirat kita menjadi jatim piatu, mempertanggung jawabkan amal perbuatan sendiri. Dan menerima siksaan dari perbuatan sendiri.
Firtah manusia adalah pada umumnya jika ia belum kena batunya. Sampai kapan pun ia gak bakalan taubat. Namun ketika ia sudah kena batunya dengan kkata lain sudah mendapat azab dari allah barulah iia tobat dan sadar akan arti sebuah kehidupan.
Kehiupan itu tak berate ketika kita tidak menjalankan dengan berarti. Karena ketika kita tidak menjalankan kehidupan ini dengan arti yang pasti, tugas kita selanjutnya hanyalah menunggu. Menunggu akan kehidupan yang sangat rugi yankni diakhirat nanti.
Begitulah pesan dakwah yang dapat saya petik dari judul lagu sepohon kayu. Yang mengibur, tapi juga bermuatan spiritualisasi siaran yang melambungkan reputasi Zainuddin sebagai dai sejuta umat.***(Siti Maryam)

0 komentar: